Imam Malik رحمه الله telah berkata : كُلُّ خَيْرٍ فِي إتِباَعِ مَنْ سَلَف وَ كُلُّ شَرٍّ فِي إبْتِداَعِ مَنْ خَلَفِ

“Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)"

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2012

Bait - Bait Kerinduan

 

“wahai yang bersemayam di dalam rasa dan diriku
engkau jauh dari penglihatan dan pandangan
engkau adalah ruhku jika aku tak memandangmu
dia lebih dekat denganku dari segala pendekatan”

angan-angan tentang dirimu ada di mataku
ingatan tentang dirimu ada di mulutku
tempat kembalimu ada di mulutku
tapi kemanakah engkau hilang dariku?
wahai yang bersemayam di antara perut dan iga
sekalipun tempat tinggalmu berjauhan dariku
kasih sayang tercurah untuk senantiasa mencinta
jika engkau tiada menggapainya ia akan membumbung

ku cari alasan dari dosa yang ku lakukan
tapi kau paksa aku menjadi pemutus tali
kau bawa pergi akalku di kesempitan jurang
setelah aku berumur akal itu kau bawa kembali
itulah cinta kami yang berdampingan
engkau telah mensigati dengan adil dan jeli


Ya RABBI…..
kusibukakan dia dengan cintaku
seperti ENGKAU sibukan hatiku dengan cintanya
agar menjadi ringan apa yang bersemayam di hatiku..
aku memohon kepada dzat yang membalikan keinginan
hasratku kepadamu dan hasratmu kepadaku
atau biarkan cinta mengalir di hatiku…

“ada kafilah yang berlalu menjelang malam
jalan berdebu dan malam merambat kelam
mereka menggiring hasrat menyatu dengan bumi
perjalananpun tenggelam di balik ambisi
bintang malam menuntun yang mereka harapkan
yang menggantung di atas bintang dan kenikmatan
dalam pemeliharaan yang tidak di dapat orang lain
tak peduli celaan orang yang suka melontar celaan “

“ku ingin memeluknya di saat hati sedang merindukan
adakah kedekatan setelah kami saling berpelukan
kucium mesra agar kerinduan itu sirna
keinginan untuk bertemu semakin membara
kobaran di hati belum jua terobati
kecuali setelah dua hati saling mengisi”

“tiba-tiba dia melihat sang kekasih
tak sepatah katapun terucap dari lidah”

“tanda cinta yang menyusup ke dalam hati
ada yang berubah jika dia melihat yang di cintai”

“jika ku lihat panasnya cinta di dalam hati
ku cari pancuran air untuk mendinginkan
berikan padaku kedinginan air yang pasti
karena dalam perut ada api yang menghanguskan”‘

“Aku tidak tahu apakah pesonanya yang memikat
atau mungkin akalku yang tidak lagi di tempat”
“keindahannya pangkal segala keindahan
dan magnetik laki-laki yang memandang”

“cinta bukanlah karena keindahan dan yang tampak di mata
tetapi karena yang menyatukan hati dan jiwa”

“ada getaran yang merasuki jiwa yang murah hati
layaknya getaran dahan kerana angin yang sepoi-sepoi”
“Engkaulah pembantai setiap pemabuk cinta
pilihlah untk jiwamu siapa yang kau pilih”

“Cintaku bersemi apa pun dirimu
tak peduli keadaanmu dulu dan kini
kau tak peduli kepadaku dan akupun begitu
siapa tak pedulikan dirimu hendak memuji
aku menyukai mereka sekalipun dirimu seperti musuhku
penilaianku terhadapmu sama terhadap mereka aku menilai
kudapatkan kenikmatan jika ada yang melecehkanmu
biarkan orang mencelaku karena cinta telah terpatri”

Muroja'ah : Abu Zulfan Alif al Maghtaniy
(Raudhatul Muhibbin Wan Nuzhatul Musytaqin)

احبك مثلما انتي و كيفما كنتي


احبك مثلما انتي
Uhibbuki mitsla maa anti
Aku mencintaimu apapun dirimu

احبك كيفما كنتي
Uhibbuki kaifa maa kunti
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu

ومهما كان مهما صار
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro
Apapun yang terjadi dan kapanpun

انتي حبيبتى انتي
Antii habiibatii anti
Engkaulah cintaku

زوجتي
Zaujatii
Duhai istriku

انتي حبيبتى انتي
Antii habiibatii anti
Engkaulah kekasihku


*************

حلالي انت لا اخشى عزولا همه مقتي
لقد اذن الزمان لنا بوصل غير منبتي
Halaalii anti laa akhsyaa ‘azuulan himmuhuu maqti
Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin ghoiri munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak peduli celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya.

سقيت الحب في قلبي بحسن الفعل والسمت
يغيب السعد إن غبت ويصفو العيش إن جئت
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi’li wassamti
yaghiibus sa’du in ghibti wa yashful ‘aisyu in ji’ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap ,
Hidupku menjadikan terang ketika kamu disana .

نهاري كادح حتى إذا ما عدت للبيت
لقيتك فانجلى عني ضناى اذا ما تبسمت
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa ‘udtu lilbaiti
Laqiituki fanjalaa ‘annii dhonaaya idzaa maa tabassamti
Hari2ku berat sampai aku kembali ke rumah menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu senyum.

تضيق بى الحياة اذا بها يوما تبرمتي
فأسعى جاهدا حتى احقق ما تمنيتي
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman tabarromti
Fa as’aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras
Sampai benar2 mendapatkan apa yang engkau inginkan

هنائى انت فلتهنئى بدفء الحب ما عشتي
فروحانا قد ائتلفا كمثل الارض والنبت
Hanaa’ii anti faltahna’ii bidifil hubbi maa ‘isyti
Faruuhanaa qodi’talafaa kamitslil ardhi wannabti
Engkau kebahagiaanku . tanamkanlah kebahaiaan selamanya
Jiwa-jiwa kita telah bersatu bagaikan tanah tumbuhan .

فيا أملي ويا سكني
ويا انسي وملهمتي
يطيب العيش مهما ضاقت الايام ان طبتي
Fayaa amalii wa yaa sakanii wayaa unsii wa mulhimati
Yathiibul ‘aisyu mahmaa dhooqotil ayyamu in thibti
Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku.
indahnya hidup ini walaupun hari2ku berat asalkan engkau bahagia.

تبلغ بالقليل من القليل
وهيء الزاد للسفر الطويل
Taballagh bilqoliil minal qoliil
wahayyizzaada lissafritthowiili
Carilah bekal dengan kehidupan dunia yang sementara ini
Persiapkan modal untuk perjalanan negeri akhirat yang panjang

وطاعته غنى الدارين فالزم
وفيها العز للعبد الذليل
Wathoo’atuhuu ginaddaaroini falzami
wafiihaal’izzu lil’abdiddzaliili
Menta’ati ALLAH merupakan bekal kekayaan di dunia dan akhirat
dan merupakan kemuliaan untuk hamba yang hina, maka perjuangkanlah.

وفي عصيانه عار ونار
وفيه البعد مع خزي وبيل
Wafii ‘ishyaanihi ‘aarun wa naarun
wafiihil bu’du ma’ khizyin wabiilin
Dan mendurhakai ALLAH merupakan bekal kehinaan dan api nereaka
dan jauh dari rahmat dekat dengan kesengsaraan

فلا تعصي إلهك وأطعه
دواما علّ تحظى بالقبول
Falaa ta’shii ilaahaka wa athi’hu
dawaaman ‘alla tuhzho bilqobuuli
Maka janganlah engkau durhaka pada Tuhanmu, ta’atilah selalu
Semoga engkau diberikan keberuntungan.

وصلى ربنا في كل حين
وسلم بالغدوّ وبالأصيل
wa shollaa robbunaa fii kulli hiinin
wasallama bilghuduwwi wa bil ashiili
Semoga ALLAH mencurahkan rahmatnya tiap saat
tiap pagi dan tiap sore

على طه البشير بكل خير
ختام الرسل والهادي الدليل
‘alaa thoohalbasyiiri bikulli khoirin
khitaamirrusli wal haadiddaliili
Atas baginda Nabi Muhammad Pembawa khabar gembira
Penutup para utusan, penunjuk jalan yang lurus.

*****************************************************************

Nasehatku, Wahai Saudaraku ...


مَنْ أَرَادَ وَلِيًّا فاللهُ يَكْفِيْهِ 

Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.

 

وَمَنْ أَرَادَ قُدْوَةً فَالرَّسُوْلُ يَكْفِيْهِ

Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.

 

وَمَنْ أَرَادَ هُدًى فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ

Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.

 

وَمَنْ أَرَادَ مَوْعِظَةً فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ

  Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.

 

  وَمَنْ لاَ يَكْفِيْهِ ذَلِكَ فَالنَّارُ يَكْفِيْهِ 

Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya

Sabtu, 02 Juni 2012

Untukmu, Yang Menungguku

  http://terpaksabikinwebsite.files.wordpress.com/2010/08/pena.jpg
Aku tidak ingin kau menunggu,
Menunggu seseorang yang belum tentu baik buatmu...
Menungguku...
Ya, aku tidak ingin kau menungguku...
Berawal dari sebuah kesalahan,
Yang dipicu oleh nafsu setan...
Akupun mengucapkan sesuatu tanpa terpikir,
Sebuah ucapan yang membuatku seperti disambar petir...

Telah sampai kepadaku kabar tentangmu...
Akupun mengatakan bahwa aku menginginkanmu...
Lalu sampailah ucapanku padamu...
Padahal, belum ada harta dan pekerjaan pada diriku,
Yang bisa kusandingkan untukmu...

Ucapanku hanyalah sebuah ucapan,
Ucapan yang tidak ada kepastian...
Seperti memesan sebuah rumah mewah,
Padahal di tangan hanya ada sepuluh ribu rupiah...

Lalu sampailah kepadamu kabar tentangku,
Kabar yang cukup menyenangkan kalbumu...
Sampai-sampai kau memilihku,
Ketika dua orang 'datang' kepadamu...

Sungguh aku tahu perbuatanku itu salah...
Yang menyebabkan aku selalu dirundung gelisah...
Aku membuatmu menunggu seseorang yang belum tentu,
Dan aku membuatmu 'menolak' seseorang yang 'datang' kepadamu...

Sungguh ini adalah sebuah kesalahan,
Dan harus segera dihapuskan...
Aku mendatangi orang yang kau tolak untuk meminta penghalalan,
Dan aku mengatakan kepadamu sebuah pembatalan...

Aku tarik ucapanku di waktu dulu...
Aku katakan aku mundur darimu...
Aku tahu kebingungan yang sedang kau rasakan...
Karena tiba-tiba aku berubah pikiran...
Berubah pikiran tanpa alasan...

Aku tidak tahu apakah ini akan menghapus kesalahan,
Atau justru membuat sebuah kesalahan...

Aku hanya tidak ingin kau menungguku,
Menunggu orang yang belum tentu baik buatmu...
Menunggu dengan sebuah ketidakpastian,
Menunggu dengan sebuah ketidakjelasan...

Jika kau memang jodohku,
Allah akan mempertemukanku denganmu...
Aku akan bertemu denganmu,
Tanpa kau menungguku...

Selasa, 29 Mei 2012

Untukmu Calon Istri dan Mertuaku

Duhai adik calon istriku
Tunggu abang dimalam minggu
Coba percantik diri rias wajahmu
Ke rumah abang menuju

Tunggu abang di depan pintu
Bergamis ungu berjilbab biru
Akan menghadap walimu
Meminta izin menghalalkanmu

Sampaikan pula pada walimu
Abang ingin jadi menantu
Supaya boleh menyayangimu
Boleh rindu boleh cemburu

Usah adik risau meragu
Khawatir ditolak pinanganku
Kalau Alloh memberi restu
Insya..Alloh jodoh bersatu

*****

Assalámu 'alaykum calon mertua
Ini saya apa adanya
Saya datang mengatur kata
Untuk mengkhitbah lebih kurangnya

Saya cuma orang biasa
Ayah dan ibu petani desa
Fakir 'ilmu fakirlah harta
Hanya tekad sebesar dunia

Kalau abah ridho dan rela
Saya minta sebutir permata
Yang cantik paras juga sholeha
Yaitu anakmu yang pertama

Insya..Allóh saya setia
Dunia akherat takkan merana
Walau nanti miskin dhuafa
Cinta saya takkan mendua

Ini mahar sebagai tanda
Saya serius bila berkata
Saya takkan bisa menanti lama
Sebab banyak yang menanti saya

Minggu, 29 April 2012

Bait Sya’ir yang membuat Al-Imam Ahmad -rahimahullaah- menangis


Dikisahkan, ada seseorang yang mendatangi Al-Imam Ahmad dan bertanya kepada beliau, “Wahai Imam, bagaimana menurut anda mengenai sya’ir ini?“

Beliau menjawab, “Sya’ir apakah ini?” di mana orang tersebut membaca sya’ir berikut

إذا ما قال لي ربي اما استحييت تعصيني

Jika Rabb-ku berkata kepadaku, “Apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada-Ku?”

وتخفي الذنب عن خلقي وبالعصيان تأتيني

Engkau menutupi dosamu dari makhluk-Ku tapi dengan kemaksiatan engkau mendatangi-Ku

فكيف أجيبُ يا ويحي ومن ذا سوف يحميني؟

Maka bagaimana aku akan menjawabnya? Aduhai, celakalah aku dan siapa yang mampu melindungiku?

أسُلي النفس بالآمالِ من حينٍ الى حيني

Aku terus menghibur jiwaku dengan angan-angan dari waktu ke waktu

وأنسى ما وراءُ الموت ماذا بعد تكفيني

Dan aku lalai terhadap apa yang akan datang setelah kematian dan apa yang akan datang setelah aku dikafani

كأني قد ضّمنتُ العيش ليس الموت يأتيني

Seolah-olah aku akan hidup selamanya dan kematian tidak akan menghampiriku

وجائت سكرة الموتُ الشديدة من سيحميني

Dan ketika sakaratul maut yang sangat berat datang menghampiriku, siapakah yang mampu melindungiku?

نظرتُ الى الوُجوهِ أليـس منُهم من سيفدينـــي

Aku melihat wajah-wajah manusia, tidakkah ada di antara mereka yang akan menebusku?

سأسأل ما الذي قدمت في دنياي ينجيني

Aku akan ditanya tentang apa yang telah aku persiapkan untuk dapat menyelamatkanku (di hari pembalasan)

فكيف إجابتي من بعد ما فرطت في ديني

Maka bagaimanakah aku dapat menjawabnya setelah aku melupakan agamaku

ويا ويحي ألــــم أسمع كلام الله يدعوني

Aduhai sungguh celakalah aku, tidakkah aku mendengar firman Allah yang menyeruku?

ألــــم أسمع لما قد جاء في قاف ويسِ

Tidakkah aku mendengar apa yang datang kepadaku (dalam surat) Qaaf dan Yasin itu?

ألـــم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع و الديني

Tidakkah aku mendengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkannya (manusia), dan hari pembalasan?

ألـــم أسمع مُنادي الموت يدعوني يناديني

Tidakkah aku mendengar panggilan kematian yang selalu menyeruku, memanggilku?

فيا ربــــاه عبدُ تــائبُ من ذا سيؤويني

Maka wahai Rabb-ku, akulah hambamu yang ingin bertaubat, siapakah yang dapat melindungiku?

سوى رب غفور واسعُ للحقِ يهديني

Melainkan Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Luas Karunianya, Dialah yang memberikan hidayah kepadaku

أتيتُ إليكَ فارحمني وثقــّـل في موازيني

Aku datang kepada-Mu, maka rahmatilah diriku dan beratkanlah timbangan (kebaikanku)

وخفَفَ في جزائي أنتَ أرجـى من يجازيني

Ringankanlah hukumanku, sesungguhnya hanya Engkaulah yang kuharapkan pahalanya untukku

Al-Imam Ahmad terus melihat bait-bait sya’ir tersebut dan mengulang-ulangnya kemudian beliau menangis tersedu-sedu. Salah seorang muridnya mengatakan bahwa beliau hampir pingsan karena begitu banyaknya menangis.
dari Kitab Manaqib Al-Imam Ahmad hal. 205 oleh Al-Imam Ibnul Jauzy.
Download audionya di sini => [link]

Sumber : Abu Salman

Untuk Saudara Kami

 

Di samping kalian ada seorang ibu?
Sudahkah engkau ajari dia bagaimana cara berwudhu?
Jika belum, kenapa kalian lelah-lelah mencari mad’u?
Untuk membesarkan nama “jamaahmu”?
Di sampingmu, masih adakah seorang ayah?
Sudahkah kau tuntun dia tentang akidah?
Sudikah kau sedikit lelah
Mengajari dia ibadah
Untuk membalas dia yang besusah payah
Membesarkan kalian tanpa upah?

Di sisimu adakah seorang saudara?
Sudahkah kau ajari ia mengenal Allah nya?
Jika belum kau ajari dia
Kenapa kau sibuk merangkai masa?
Atau sibuk menebar pesona?
Ayolah, kuajak kau berpikir waras
Jika kau selamat lalu mereka tergilas
Akankah itu dinamakan keberhasilan yang pantas?
Atau kebodohan yang terlalu jelas?

Merekalah hidupmu
Lenteramu
Darah dan benihmu
Lalu kau sibuk dengan sekelilingmu
Lalu lupa pada keluargamu?
Ayolah, kita berfikir sehat
Jangan menjadi pahlawan yang sok kuat
Jika keluarga sendiri belum terawat

Aku lebih senang mengenalmu sebagai orang biasa
Tapi sukses mengawali dari keluarga
Bahagia membangun biduk dalam ajaranNYA
Kaffah aqidahnya, bagus ibadahnya, terpuji muamalahnya
Dan aku tertawa melihatmu dengan sederet puji
Ustadz, murobbi, da’i atau tholibul ilmi
Tapi keluargamu sholat aja tak ngerti
Engkau adalah miskin yang layak disantuni
Bukankah begitu, wahai pemilik hati?

Dariku :
Di Penghujung Pena
Sumber :  Abu Mas'ud

Syair Seorang Wanita yang Orang Tuanya Menghalanginya untuk Menikah


Berikut adalah syair seorang wanita dari daerah Thur Al Bahah. Orang tuanya menghalanginya untuk menikah hingga ia menjadi tua dan laki-laki yang menginginkannya menjadi sedikit.


Saat kutulis suratku ini dengan jari jemariku,
air mataku mengalir deras dari kedua mataku.
Kukirim suratku ini kepada dua orang tuaku,
dengan penuh perhatian dan kasih sayang megasuhku.
Kukirim surat ini meski aku tak ingin mengungkapkanya,
tapi gejolak hati dan perasaan tak kuasa membendungnya.
Saat kumenulisnya air mataku menumpahkan seluruh isinya,
kumenulisnya dari kebimbangan yang nyata.
Sungguh aku telah menyembunyikan kesedihanku,
tetapi itulah yang menyebabkan hancur hatiku.
Saat kulihat uba mulai tumbuh di kepala,
kurasa uban ini seperti api yang membara.
Wahai ayahku, janganlah kau halangi masa mudaku,
sungguh umurku penuh duka telah berlalu.
Saat kulihat anak-anak, tak terasa berlinang air mataku,
hati ini merintih karena kejamnya rintangan orang tuaku.
Saat kulihat wanita menjalani hidup dengan suaminya,
anak-anaknya tidur lelap di pangkuannya.
Saat kulihat dia penuh kasih sayang terhadap anaknya,
ada sesuatu yang mengetuk relung jiwa.
Wahai ayahku, jangan kau bunuh aku dengan kesedihan,
pembunuhan tanpa pedang atau persenjataan.
Wahai ayahku, Allah tetapkan taqdir untukku,
aku butuh suami dan anak-anakku.
Inilah ketetapan-Nya, sang pembuat hokum lagi bijaksana,
Dia tetapkan kepada semua manusia.
Jika kau menghendaki gaji dan karirku,
ambillah dengan cuma-cuma apa yang ada di benakmu.
Atau engkau ingin menjual anak gadismu pada orang yang mau harga tinggi,
itu urusan kedua bagimu.
Demi Allah ini jual beli yang merugi,
mirip kambing dan domba yang dijual beli.
Wahai ayahku, cukup jangan kau sia-siakan masa depanku,
ataukah tak cukup bagimu menyia-nyiakan umurku yang telah berlalu.
Jika kau tetap tidak mau mengindahkan suratku,
ketahuilah Allah tak akan melupakanku.
Pada hari kiamat kita akan bertemu untuk menjalani hisab kita,
di hadapan Allah Yang Maha Esa dan pemberi balasan serupa.
Didatangkan neraka, dan malaikat berada di sekitarnya,
kau lihat lidah api yang menyala.
Di sana kau akan tahu hak setiap anak perempuan,
mereka dikekang di balik tembok tanpa alasan.

(Ummu Salamah As Salafiyyah, Al Intishor Li Huquuqul Mu’minat)

Dari Abu Salman, dari Al-Akh Faris Aqsha

Syair Aqidah Muslim


Berikut adalah sya’ir yang dibuat oleh Asy-Syaikh Mula ‘Imran -rahimahullaah- ulama pada abad ke-13 hijriyyah yang saya nukilkan dari kitab Manhaj Al-Firqotun Najiyah Wa Ath-Thoifah Al-Mansuroh karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -rahimahullaah-

إن كان تابعُ أحمدٍ متوهّبا
فأنا المقِرُّ بأنني وهَّابي

Jika pengikut Ahmad (Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Wahhabi
Maka ku akui bahwa diriku adalah Wahhabi[1]

أنفي الشريك عن الإله فليسَ لي
ربٌّ سوى المتفردِ و الوهاب

Kutiadakan sekutu bagi Ilah, maka tidak ada (sesembahan) bagiku
Kecuali Rabb Yang Maha Esa lagi Maha Pemberi

لا قبة تــُرجى و لا وثنٌ و لا
قبرٌ له سببٌ من الأسباب

Tak ada kubah yang bisa diharap, tidak pula berhala
dan tidaklah kuburan menjadi sebab di antara penyebab

كلا و لا حجر و لا شجر و لا
عين و لا نــُــصُـبٌ من الأنصاب

Tidak! Sekali-kali tidak. Tidak pula batu, pohon
Tidak pula mata air[2] dan patung-patung

أيضا و لستُ مُعلقا لتميمة
أو حلقة أو وَدعة أو ناب

Juga, aku tidak mengalungkan jimat
Gelang, rumah kerang atau taring

لِرجاء نفع أو لدفع بليّةٍ
الله ينفعني و يدفع ما بي

Untuk mengharapkan manfaat atau pun menolak bala
Allah-lah yang memberiku manfaat dan menghilangkan bala’ bagiku

و الابتداع و كل أمر مُحدثٍ
في الدين ينكره أولوا الألباب

Adapun bid’ah dan segala perkara yang diada-adakan
di dalam agama, diingkari oleh orang-orang yang berakal

أرجو بأني لا أقاربُه و لا
أرضاه دينا و هو غير صواب

Aku berharap, semoga diriku tak akan mendekatinya
Tidak pula rela dijadikan sebagai agama, itu tidaklah benar

وأعود من جهمية عنها عتتْ
بخلاف كل مؤَوِّل مُرتاب

Dan aku berlindung dari Jahmiyyah[3] yang membangkang
Aku mencela perselisihan setiap ahli takwil lagi ragu

و الاستواء فإن حسبي قدوة
فيها مَقال السادة الأنجاب

Dan (makna) Istiwa’[4] maka cukuplah bagi tauladan
dari ucapan para tokoh yang mulia

الشافعي و مالك و أبي حنيـفـَة
و ابن حنبل التقي الأواب

Asy-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah
dan Ibn Hanbal yang bertakwa lagi terhormat

و بعصرنا من جاء معتقدا به
صاحوا عليه مُجَسّم وهّابي

Adapun di zaman kita, bagi siapa saja yang berkeyakinan seperti mereka
Seraya berteriak kepadanya[5]: Mujassim[6] Wahhabi[7]

جاء الحديث بغربة الإسلام فـَـلـْ
يـَـبْكِ المحب لِغربة الأحباب

Telah datang hadits tentang keterasingan Islam
Hendaknya pecinta kebenaran menangis karena terasing dari orang yang dicintai

فالله يحمينا و يحفظ ديننا
مِن شـَرّ كل مُعاندٍ سَبَّاب

Allah-lah yang melindungi kita dan menjaga agama kita
Dari kejahatan dari setiap pembangkang dan pencela

و يُؤَيِّد الدين الحنيف بعصبة
مُتمسكين بسنة و كتاب

Dia menguatkan agamaNya yang lurus dengan perantaraan
sekelompok orang yang berpegang teguh dengan Sunnah dan KitabNya

لا يأخذون برأيهم و قياسهم
و لهم إلى الوحْيَين خير مآب

Tidak mendahulukan akal dan qiyas mereka
Bagi mereka, kedua wahyu adalah sebaik-baik pedoman

قد أخبر المختار عنهم أنهم
غـُرباءُ بين الأهل و الأصحاب

Sang (Nabi) terpilih telah mengabarkan kepada mereka
Bahwa mereka adalah orang yang terasing di tengah keluarga dan kawan-kawannya

سلكوا طريق السالكين إلى الهُدى
و مشوا على مِنهاجهم بصواب

Mereka menapaki jalan para pencari hidayah
dan meneladani prinsip mereka dengan benar

من أجل ذا أهلُ الغــُـلـُوِّ تـنافروا
عنهم فقلنا ليس ذا بعُجاب

Karena itulah orang-orang yang ghuluw memusuhi mereka
Maka kita katakan, bahwa hal itu tidaklah aneh

نَفَرَ الَّذِيْنَ دَعَاهُمْ خَيْرُ اْلوَرَى
إِذْ لَقَّبُوْهُ بِسَاحِرٍ كَذَّابِ

Telah lari pula orang-orang yang diseru oleh sebaik-baik manusia
Bahkan menjulukinya sebagai tukang sihir lagi pendusta

مـع عِلمِهـم بـأمـانةٍ وديـانةٍ
فِيْهِ وَمَكْرَمَةٍ، وَصِدْقِ جَوَابِ

Padahal mereka mengetahui tentang ketinggian amanah dan agamanya
Kemuliaannya dan kejujurannya dalam menepati

صلـى عليهِ اللهُ مـا هـبَّ الصبا
وعـلى جميـع الآل والأصحـابِ

Semoga keberkahan atasnya selama angin masih berhembus
Demikian juga atas segenap keluarga dan sahabatnya


Catatan Kaki :

[1] Musuh-musuh tauhid memberi gelar Wahhabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah) nisbat kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Al-Masyarif At-Tamimi Al-Hanbali An-Najdi rahimahullah (mujaddid Islam terbesar abad ke 12 Hijriyah). Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada Muhammad. Betapa pun begitu, ternyata Allah menghendaki nama Wahhabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Asma’ul Husna.
[2] Mata air tempat yang dimaksudkan untuk mencari berkah atau mendapat kesembuhan. Hal yang merupakan perbuatan syirik, karena berdo’a dan memohon sesuatu kepada selain Allah.
[3] Jahmiyyah adalah kelompok sesat yang mengingkari bahwa Allah berada di langit, dan berpendapat bahwa Allah itu di mana-mana, di setiap tempat. Berkata Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Lum’atil I’tiqod: Jahmiyyah, disandarkan kepada Al-Jahm bin Shafwan yang dibunuh oleh Saalim atau Salim bin Ahwaz pada tahun 121 H.  Madzab/metode mereka dalam permasalahan sifat Allah adalah menghilangkan dan meniadakannya. Dalam masalah takdir mereka berpendapat dengan pendapat Jabbariyyah (makhluk tidak memiliki kehendak dan pilihan dalam beramal, seperti kapas yang diterpa angin). Sedangkan dalam masalah keimanan mereka berpendapat dengan Murji’ah yaitu iman hanyalah sebatas pengakuan (ikrar) dalam hati, amalan dan perkataan tidak termasuk dalam kerangka iman. Pelaku dosa besar menurut mereka adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Dengan demikian mereka adalah Mu’aththilah (pengingkar sifat-sifat dan nama Allah), Jabriyyah, Murji’ah. Sekte ini terbagi menjadi sekian kelompok.
[4] Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan istiwa’ di dalam Al-Qur’an di tujuh tempat:

اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A’raf: 54)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Yunus: 3)

اللَّـهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Ar-Ra’d: 2)

الرَّحْمَـٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-Furqon: 59)

اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. As-Sajdah: 4)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-Hadiid: 4)
Istiwa’ dalam bahasa Arab yaitu “Tinggi, di Atas”. Hanya saja ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala  di atas ‘Arsy-Nya tidak sama dengan makhlukNya; Tidak seperti seorang raja di atas singgasananya dan tidak pula seperti seseorang di atas kendaraannya. Ahlus Sunnah wal  Jama’ah menyatakan bahwa tingginya Allah di atas ‘ArsyNya sesuai dengan kemuliaanNya. Dan kita tidak mempermasalahkan bagaimana dan seperti apa istiwa’nya Allah di atas ‘ArsyNya. Karena kita meyakini bahwa Dzat Allah tidak sama dengan makhlukNya, maka kita tidak mungkin menerangkan bagaimana istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Apalagi tidak ada satu sumberpun dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan tentang kaifiyahnya.
Seperti kisah masyhur yang terjadi pada Imam Malik Rahimahullah sebagaimana dinukil oleh imam ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf Wa Ashhabul Hadits. Imam Malik ketika didatangi oleh seseorang di majelisnya, kemudian orang tersebut bertanya: “Ar-Rahman ‘alal ‘Arsy istawa’, bagaimana istiwa’-Nya?”. Beliau Rahimahullah tertunduk dan marah. Dan tidaklah beliau pernah marah seperti marahnya ketika mendengarkan pertanyaan tersebut. Beliau pun meneteskan butiran-butiran keringat dari dahinya; sementara para hadirin pun terdiam dan tertunduk, semuanya menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dikatakan oleh Imam Malik. Beberapa saat kemudian beliau Rahimahullah pun tersadar dan mengangkat kepalanya, seraya berkata: “Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna istiwa’ sudah diketahui; beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyah) adalah bid’ah. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat.” Maka orang itu pun diperintahkan untuk diusir dari majelisnya. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 45)
Dan para ulama ahlus sunnah pun tidak ada yang berselisih tentang istiwa’nya Allah di atas ‘ArsyNya, dan ‘ArsyNya di atas langit. Mereka menetapkan hal ini sesuai dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan; mengimani, membenarkan Allah Azza wa Jalla dalam berita-berita yang telah disampaikanNya dan mengucapkan sesuai dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ucapkan tentang istiwa’Nya di atas ‘ArsyNya. Mereka melangsungkannya atas dzhahir (ayat-ayat)nya dan menyerahkan tentang kaifiyahnya kepada Allah. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)
Untuk artikel tentang Istiwa’ silakan lihat artikel saya yang terdahulu: http://rizkytulus.wordpress.com/2010/10/24/allah-maha-tinggi-di-atas-%e2%80%98arsy/
[5] Yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
[6] Mujassim adalah orang yang memvisualisasikan sifat-sifat Allah
[7] Bagaimana mungkin Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah seorang Wahhabi ??? Sedangkan beliau hidup jauh ratusan tahun (wafat tahun 241 H) sebelum lahirnya Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (lahir tahun 1115 H, wafat tahun 1206 H)
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Ahlusunnah Mengimani bahwa Allah Ta’ala Di Atas Arsy-Nya, Ustadz Muhammad bin ‘Umar As-Sewwed
- Biografi Ahlul Hadits, http://ahlulhadist.wordpress.com
- Manhaj Al-Firqotun Najiyah Wa Ath-Thoifah Al-Mansuroh, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah
- Biografi Syaikh Muhammad At Tamimi, http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=57
- Syarh Lum’atil I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Sumber : Abu Salman

Jumat, 23 Maret 2012

Bait Syair dalam Kitab Ighatsat Al-Lahfan karya Ibnul Qoyyim

Katakanlah kepada mereka, perkataan seorang yang ahli menasehati
Dan hak suatu nasehat adalah didengarkan
Sejak kapan orang-orang mengetahui dalam agama kita
Bahwa nyanyian adalah sunnah yang diikuti?
Dan seseorang diperbolehkan makan seperti keledai
Dan menari-nari dalam kerumunan hingga terjatuh
Mereka mengatakan, Kami mabuk karena rasa cinta terhadap Tuhan
Padahal yang membuat mereka mabuk tiada lain adalah amarah
Begitu pula binatang, jika telah kenyang

Rabu, 21 Maret 2012

Gombal Warning. . . !!!

Kegombalan di Kalangan Pemuda dan Pemudi Islam

Nih dia yang ditunggu-tunggu. Hehehe…

Hal yang sangat menarik salah satunya adalah menyimak romantika di dunia aktivis dakwah. Di antara sebegitu banyak yang memiliki komitmen perjuangan, ada juga beberapa yang suatu saat kadang tergelincir pada jebakan interaksi ikhwan-akhwat. Karena memiliki amanah yang sama, sesama pengurus harian lembaga, atau berada dalam satu bidang, bisa juga dalam satu kepanitiaan, membuat interaksi kerja menjadi lebih intens.

Selasa, 20 Maret 2012

Putriku Sayang

Lembutmu tak berarti kau mudah dijual beli.
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti.
Lembut bukan hiasan bukan jua kebanggaan.
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati.

Disebalik bersih wajahmu disebalik tabir dirimu.
Ada rahsia

MEMANG ALLOH SENGAJA.

MEMANG ALLOH SENGAJA.
Menemukan kita dengan orang yang salah supaya kita dapat menjadi penilai yang baik.

MEMANG ALLOH SENGAJA.
Menemukan orang yang salah supaya kita sadar kita hanya makhluq yang senantiasa mengharapkan pertolongan.

MEMANG ALLOH SENGAJA.
Menemukan orang yang salah supaya kita dapat kasih sayang terbaik khas untuk diri kita.

Dalam Diamku

Dalam diamku
Dalam diamku bukan berarti ku tak cinta
Dalam diamku
Bukan berarti ku tak peduli
Namun diamku berarti seribu bahasa cinta
Bahasa cinta yang tak kau mengerti
Bahasa cinta yg tak kau pahami 
Dan bila saatnya halal 
Ku ingin mengajari bahasa cintaku
Diamku bukan berarti ku tak peduli
Diamku bukan berarti ku tak rindu
Namun

Senin, 19 Maret 2012

Untukmu, Sang Kyai

Kalau kepala kita sudah di usap kyai, seolah-olah ada jaminan ‘kamu’ pasti masuk surga. Sehingga berebut mereka, mencium tangan kyai nya. Dan kyai nya pun seolah-olah memberikan pamahaman itu kepada muridnya. Dan dengan mudahnya tangannya selalu diangkat untuk dicium oleh murid-muridnya. Bahkan kadang-kadang tangan nya di bawah, agar muridnya rukuk mencium tangannya itu.


Siapa anda wahai kyai?!