Imam Malik رحمه الله telah berkata : كُلُّ خَيْرٍ فِي إتِباَعِ مَنْ سَلَف وَ كُلُّ شَرٍّ فِي إبْتِداَعِ مَنْ خَلَفِ

“Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)"

Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 November 2012

Untuk Saudara Kami, Para Penegak Khilafah




perhatikanlah sejenak, saudaraku
wahai penegak khilafah.
adakah disismu uang ?
berapa rupiahkah ia ?
dari seribu sampai seratus ribu
tidak kau pernah memperhatikannya ?
sudut kanan atas
dimana simbol itu berada

ya.. kau benar !
burung garuda-lah simbol itu !
negara yang berlambang pancasila
yang ingin kau ubah menjadi negara islam

tidak..
tidak wahai saudaraku !
bukan aku menolak untuk mendirikan khilafah
coba engkau renungkan barang sejenak

lihatlah siapa diri kita ?!
ibu kita melahirkan dengan selamat
atas kebaikan siapa ?
kita dapat bersekolah
SD, SMP, SMA atau bahkan hingga UNIVERSITAS
yang mana kita menikmati fasilitasnya
dengan segala beasiswanya
kita terus kejar siang malam
atas kebaikan siapa ?




engkau gaungkan demonstrasi
sana sini kau teriakkan khilafah
pernahkah terbetik dalam hatimu ?
bukankah demonstrasi ciri dari negara demokrasi ?
lalu untuk apa kau inginkan khilafah
jika yang engkau koarkan demokrasi ?!!

ayo lahh.. ku ajak kau berfikir waras
merenunglah sejenak
apakah mungkin sebuah bangunan berdiri tanpa pondasi ?
ataukah mungkin kau yang berimajinasi ?

ingatlah, yaa ikhwah !
negara ini akan tetap bobrok
selagi masyarakatnya bobrok
sebagaimana engkau !
engkau tidak akan pernah sadar
bahwa khliafah itu
penting hingga engkau belajar
begitu pun mereka !!!

percuma saja engkau berteriak
koar-koar layaknya orang kesurupan
jika yang kau teriaki tak mengerti
apa maksud tujuanmu





lantas, apakah bom yang akan menjadi
andalanmu melawan mereka ?
jika kau masih saudaraku, maka dengarlah !!
sabda nabi yang mulia
Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allooh
dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.[*]

aku tak rela jika kau bunuh saudaraku
aku tak rela jika kau hina pemimpinku
aku tak rela jika kau merusak negaraku
dan aku tak rela jika engkau
menjadi anjing-anjing neraka !!!

ku harap kau mengerti,
wahai pemilik hati


========================================================================
[*] Shahîh. HR an-Nasa`i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan an-Nasa`i dan lihat Ghayatul- Maram fi Takhrîj Ahadîtsil-Halal wal-Haram (no. 439).

[**] Dikutip dari Abu Zulfa Alif Al Maghtaniy

Jumat, 19 Oktober 2012

Dia-lah Pemuda Idaman ( Mendulang Faedah dari Syaikh Al Albaniy dan Syaikh Muqbil -rohimahumallooh- )

"SEMUA DIMULAI DENGAN KETEGUHAN HATI"

Bila kita membaca biografi para ulama, kita akan dapati bahwa permulaan mereka dalam menimba ilmu tidaklah mudah. Mereka justru mendapat tantangan dari orang-orang terdekat mereka.

Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, meski ayah beliau seorang ahli fiqh madzhab Hanafi, tapi sang ayah tidaklah serta merta mendukung beliau mempelajari ilmu hadits. Ayah be
liau sering mengulang-ulang ucapannya, "Jangan belajar hadits, barangsiapa yang belajar hadits maka dia akan bangkrut…" melarang anaknya untuk belajar hadits.

Tapi Al Albani muda tetap teguh dengan pendiriannya. Sedikit demi sedikit dia tekuni ilmu hadits sampai beliau pun menjadi ulama besar dalam ilmu hadits. Dan lihatlah hasilnya sekarang, hampir semua kitab-kitab ahlussunnah mengambil faidah dari hasil penelitian beliau terhadap hadits. Sehingga kita dapati di kitab-kitab pernyataan, "Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani… Hadits ini didha'ifkan oleh Al Albani.. Hadits ini dihasankan oleh Al Albani.."

Ini semua bermula dari keteguhan hati beliau untuk menempuh jalan yang mulia, jalan seorang penuntut ilmu.

Selain beliau ada Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i. Siapa yang tidak kenal beliau? Beliau adalah ulama besar Yaman. Murid beliau ribuan, berasal dari segenap penjuru dunia: Mulai dari Tunisia, Aljazair, Libia, Sudan, Mesir, Syam, Negara-negara teluk, Somalia, Djibouti, Ethiopia.

Kemudian dari negara-negara Barat: Britania, Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Amerika, Kanada. Bahkan juga banyak murid-murid beliau yang berasal dari Nusantara (semoga Allah menjaga dan mempersatukan hati-hati mereka di atas al haq dan menjauhi mereka dari perpecahan).

Di awal perjalanan beliau menuntut ilmu, ibu beliau tidaklah menyetujui langkah beliau untuk belajar. Sang ibu ingin beliau bekerja sebagaimana pemuda lain di kampungnya. Al Wadi'i muda tetap teguh hatinya untuk belajar. Meski tidak setuju dengan jalan yang ditempuh sang anak, ibu beliau hanya memarahinya sambil berkata, "Allahu yahdik, Allahu yahdik.. Semoga Allah menunjukimu, semoga Allah menunjukimu…"

Asy Syaikh kemudian pergi ke Saudi Arabia. Di sana beliau bekerja sebagai seorang satpam di sebuah apartemen. Malam harinya ketika tidak bekerja, beliau memanfaatkan waktu untuk belajar. Sampai akhirnya ketika dibuka pendaftaran mahasiswa baru Universitas Islam Madinah, beliau pun mendaftar dan lulus diterima menjadi mahasiswa dengan beasiswa. Beliau pun belajar dengan sungguh-sungguh.

Menurut apa yang saya dengar dari murid-murid beliau, waktu diterima sebagai mahasiswa, usia syaikh sekitar tigapuluh lima tahun. Usia yang tidak muda bagi seorang mahasiswa baru.

Di Madinah beliau belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan beliau mengisi waktu kosong beliau dengan kuliah instisab (semacam Universitas Terbuka) sehingga ketika lulus sarjana, beliau pun lulus dengan dua gelar. Satu gelar di bidang aqidah, satunya lagi di bidang fiqh.

Begitu lulus sarjana, beliau pun mendaftar di program magister hadits sampai selesai. Disertasi beliau waktu itu mendapatkan pujian dari para penguji. Bahkan salah seorang dari mereka mengatakan "Ini bukanlah karya seorang mahasiswa magister, ini karya seorang Doktor!"

Ketika beliau kembali ke Yaman, beliau pun didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai dunia untuk belajar, menuntut ilmu dari beliau. Dan dari didikan beliau –yang merupakan keutamaan dari Allah subhanallah ta'ala- keluarlah puluhan ulama, dan ribuan dai yang kini berdakwah di berbagai penjuru dunia.

Ini semua bermula dari keteguhan hati beliau untuk menempuh jalan yang mulia, jalan seorang penuntut ilmu.

Jadi para pemuda, para penuntut ilmu, jangan pernah patah semangat dalam menimba ilmu. Janganlah menjadi pemuda yang cengeng, diberi sedikit tantangan langsung melempem, meninggalkan thalibul ilmi. Milikilah semangat yang membaja, hati yang kokoh untuk tetap berada di jalan ini.

Jalan penuntut ilmu dari zaman para sahabat Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, kemudian di zaman Imam Asy Sya'fi'i, Imam Syu'bah, Imam Al Bukhari, Imam Ahmad, dll. semuanya tidak lepas dari tantangan. Hendaknya kita tetap memiliki kemauan yang keras, cita-cita yang tinggi sebagaimana ucapan seorang penyair:

فكن رجلاً رجله في الثرى وهامة همته في الثريا

Maka jadilah seorang yang kakinya berada di atas tanah
Sedangkan cita-citanya setinggi bintang Tsurayya

Ditulis di Hadramaut pada malam Kamis 2 Dzulhijjah 1433 H – 17/10/2012
Oleh : Al Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy

Rabu, 15 Agustus 2012

Sang Rahib, Seorang Gadis dan Iblis



Dahulu, di kalangan bani isroil terdapat seorang rahib (ahli ibadah). Dia menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah kepada Allah. Ditempat lain, tersebutlah 3 orang lelaki bersaudara yang memiliki seorang saudara perempuan yang masih gadis. Ketika itu, ketiganya mendapat panggilan dari penguasanya untuk pergi berperang. Mereka kebingungan kepada siapakah saudara perempuan mereka akan dititipkan untuk dijaga dan dilindungi.

Walhasil, ketiganya akhirnya bersepakat untuk menitipkan saudara perempuannya itu kepada ahli ibadah. Mereka percaya penuh, bahwa sang rahib mampu menjaganya. Benarlah, mereka pun membawa si gadis menuju tempat peribadahan sang rahib. Pada awalnya sang rahib sempat berat hati untuk memikul beban amanah ini. Dia menolaknya dan ber-ta’awudz kepada Allah dari apa yang mereka minta. Akan tetapi, mereka bertiga terus membujuknya hingga ia pun terpaksa menerima tawaran tersebut. Sang rahib lantas memerintahkan ketiganya agar menempatkan si gadis di rumah yang ada di depan tempat ibadahnya. Ketiga bersaudara itu pun berangkat berperang meninggalkan si gadis di tempat tersebut.



Kini, setiap hari sang rahib meletakkan makanan di depan pintu tempat peribadahannya, menutup pintunya dan naik ke tempat ibadahnya, kemudian memerintahkan si gadis agar mengambilnya. Hal ini berlangsung beberapa saat lamanya.

Dan tentu musuh kita, iblis, pun kembali beraksi melancarkan tipu dayanya. Iblis membisiki sang rahib dan menghasung untuk selalu berbuat kebajikan. Perhatikan, terkadang iblis memerintahkan kita untuk melakukan suatu kebajikan, akan tetapi sebenarnya ada hal lain yang hendak ia tuju. Kita harus selalu waspada.

Si iblis berkata kepadanya, “Seandainya engkau mau mengantarkan makanan ini di depan rumah gadis itu, pahalanya pasti lebih berlipat. Apakah engkau tidak khawatir jika ia keluar dari rumahnya akan terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan. Bagaimana jika ada seseorang yang melihatnya kemudian menjadi fitnah?” Sang rahib pun terkena rayuannya. Ia pun mulai mengantarkan makanannya di depan rumah si gadis. Hal ini berlangsung beberapa lamanya.

Iblis kembali menemuinya.seperti sebelumnya, ia pun berlagak seperti seorang pemberi nasihat. “Cobalah kau ajak bicara dia, itu akan menjadikan hatinya merasa lebih tenang. Engkau tidak tahu, barangkali di rumah itu hatinya selalu galau”. Kembali, sang rahib termakan bujuk rayuannya. Ia pun mulai berani berbincang dengan si gadis dari atas tempat peribadahannya.

Waktu pun terus berlalu, iblis kembali menemuinya. Tentu, dengan berlagak seorang pemberi nasihat ia kembali berkata, “Cobalah kau turun menemuinya, kau duduk di depan pintu tempat ibadahmu itu, pasti hal ini akan lebih menenangkannya. Dan pahala yang engkau dapatkan pun semakin besar.” Sang rahib pun kembali mematuhi bisikan maut iblis. Sang rahib telah turun dari tempat ibadahnya, duduk di teras tempat si gadis dan berbincang dengannya. Hal ini pun berlangsung lama.

Kembali, iblis menemuinya. Ia memerintahkan sang rahib untuk semakin mendekatinya. Ia harus duduk di depan rumah si gadis. “ itu akan lebih menenangkannya” hasut iblis. Dan sang rahib pun memenuhi rayuannya. Ia lakukan apa yang dikatakan oleh iblis.

Demikian, hal ini juga belarngsung lama. Iblis tiada bosan kembali menemuinya, “Cobalah kau masuk menemuinya di dalam rumah. Berbincang-bincanglah dengannya. Pasti hatinya akan semakin tentram dan tenang”. Kali ini, mulailah sang rahib masuk menemuinya di dalam rumah. Ia habiskan siang harinya untuk berbincang-bincang bersama si gadis. Jika senja datang ia pun naik ke tempat peribadahannya. Tak menyia- nyiakan kesempatan, si iblis pun mulai menghias-hiasi si gadis dimata sang rahib. Dan tak lama berselang, sang rahib pun berani menyentuh dan menciumnya. Hingga akhirnya, ia pun menghamilinya. Si gadis benar-benar hamil, dan melahirkan seorang anak.

Setelah kelahiran si bayi, iblis menaku-nakuti sang rahib, “Celaka kamu, jika ketiga saudaranya datang, aibmu ini pasti terbongkar. Mereka tak akan membiarkanmu. Mereka akan membunuhmu. Cepat, kau ambil anak itu. Bunuh dan kuburkan dia segera. Ibunya pasti akan menutup mulut. Tak mungkin dia akan memberi tahukan hal ini kepada saudaranya.” Sang rahib kembali termakan rayuan sesatnya. Ia pun membunuh anak itu.

Setelah sang rahib membunuh anaknya, “Kau kira ibu si bayi akan diam saja dan tidak akan mengadukan perbuatanmu ini ?! Ingat, kau berzina dengannya dan membunuh anaknya. Ia pasti akan mengungkapkannya. Cepat, temui ibunya! Bunuh dia sekalian dan kuburkan bersama anaknya!” iblis memprovokasi. Ia terus memaksanya hingga kembali, tanpa rasa iba, sang rahib membunuh perempuan itu dan menguburkannya dalam satu liang kubur. Ia letakkan di atasnya sebongkah batu besar.

Waktu pun berlalu cepat. Sang rahib kembali menekuni rutinitasnya. Dan tibalah saatnya ketiga bersaudara itu pulang dari medan pertempuran. Mereka pun segera menemui sang rahib. Rindu bersua dengan satu-satunya saudari yang mereka punya. Namun harapan mereka sirna sudah. Sang rahib, dengan penuh isak memberi tahukan bahwa si gadis telah meninggal. Tak lupa, sang rahib juga mendoakan rahmat untuknya. “Dia adalah wanita yang baik. Inilah kuburannya”. Kata sang rahib sembari menunjukkan kuburan yang sebenarnya bukan kuburan si gadis. Betapa sedih dan pilu hati mereka bertiga. Mereka pun menangisi kepergiannya dan terus mendoakan kebaikan untuknya.

Mereka pun pulang ke rumahnya. Ketika malam menjelang dan mereka pun tertidur pulas. Iblis melanjutkan misi jahatnya. Didalam mimpi, ia mendatangi mereka bertiga. Di mulai dari yang tertua, kedua, kemudian yang paling bungsu. Dalam mimpi itu ia menanyakan perihal saudarinya. Tentu, mereka pun mengabarkan kepadanya sebatas apa yang mereka ketahui. Persis seperti apa yang disampaikan sang rahib.

“Dusta dia!” kata iblis. “Sebenarnya ia telah menzinainya, bahkan ia sempat melahirkan seorang anak, akan tetapi sang rahib membunuhnya dan anaknya sekaligus karna ia takut kepada kalian. Ia mengubur keduanya di belakang pintu arah kanan rumah si gadis dahulu tinggal. Pergilah ke tempat tersebut. Masuklah ke dalamnya, pasti, kalian akan menemukan keduanya. Persis, seperti yang aku katakan.

Pagi menjelang, mereka bertiga bangun dalam keadaan penuh heran. Bagaimana tidak ? ketiganya bermimpi dengan mimpi yang sama. “Ah ini kan sekedar mimpi biasa. kita tidak perlu menggubrisnya” kata yang paling tua. “Tidak. Kita harus mengeceknya” sahut si bungsu. Mereka pun akhirnya bersepakat untuk pergi ke tempat tersebut. Mereka masuk ke dalam rumah. Mereka cocokkan dengan apa yang mereka dapatkan di dalam mimpi. Dan, mereka terkejut. Mereka temukan jenazah si gadis dan anaknya di tempat tersebut. Tak menunggu waktu, segera, mereka menginterogasi sang rahib. Tak bisa mengelak, ia pun mengakui kebejatannya.

Ketiganya pun menemui pengusa daerah itu. Mengadukan kelakuan sang rahib. Sang rahib diminta turun dari tempat peribadahannya untuk dibunuh di tiang salib. Menjelang eksekusi, kembali, si iblis menemuinya “Kau tahu kawan, akulah yang telah menghasutmu hingga kau terpedaya olehku. Kau menzinainya dan membunuhnya beserta anaknya. Kalau kau mau mentaatiku dan kufur kepada Allah. Pasti aku akan menyelamatkanmu.” Tak di nyana, sang rahib menuruti kemauannya. Kini, ia telah kafir terhadap Allah. Rabbnya yang selama ini selalu ia sembah.

Setelah tujuannya tercapai, ia pun segera meninggalkannya. Sang rahib pun mati di tiang salib. Meninggal dalam keadaan kafir kepada Allah.

(Sumber – Majalah Tashfiyyah edisi 16- )

Selasa, 07 Agustus 2012

Hukum Menjadikan Agama Sebagai Bahan Candaan dan Olok-Olok

Fenomena berolok-olok dalam perkara agama ini bukanlah perkara yang langka bagi kita. Seolah-olah bukanlah lagi hal yang sakral, sering sekali kita temui di sekitar kita orang yang dengan mudahnya menjadikan perkara agama sebagai bahan olok-olok untuk ditertawakan.

Dan sungguh disayangkan, sebagian orang yang melakukan perkara itu mala

h orang-orang yang dianggap sebagai dai, para juru dakwah yang mengisi acara-acara ceramah agama di tengah-tengah masyarakat.

Sebagian orang berolok-olok dengan firman Allah,


وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ


"Dan rukuklah kalian bersama orang yang ruku'" (Al Baqarah: 43)


Mereka plesetkan dengan, "Dan merokoklah kalian bersama orang yang merokok." Dan mereka jadikan ayat ini sebagai dalil disyariatkannya "Merokok berjama'ah", na'udzubillah.


Di lain ayat Allah berfirman,


وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ


"Wala taqrabu az zina, janganlah kalian dekati zina" (Al Isra': 32)


Mereka jadikan ayat ini sebagai olok-olok dan mereka plesetkan artinya dengan "Hari Rabu jangan berzina, selain hari Rabu silakan saja." Wal'iyadzubillah.


Sebagian yang lain mengolok-olok wanita yang multazimah, wanita yang berpegang teguh dengan agamanya dengan mengenakan jilbab besar yang berwarna gelap atau memakai cadar. Mereka olok-olok dengan panggilan "Ninja, ninja!" atau mereka gelari dengan sebutan "Kuntilanak" atau yang semisalnya.


Atau contoh lain, sebagian orang mengejek orang yang berjenggot karena mengamalkan sunnah Rasul dengan menirukan suara kambing ketika mereka lewat. Menyerupakan orang yang berjenggot dengan kambing.


Ini semua adalah bentuk ISTIHZA', berolok-olok dalam perkara agama yang dilarang keras di dalam Islam, bahkan ditakutkan pelakunya bisa murtad, keluar dari Islam.


KENAPA BISA MURTAD?

Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di menjelaskan,

"Sesungguhnya berolok-olok dengan Allah, ayat-ayatNya dan rasul-Nya mengeluarkan seseorang dari agama karena pondasi agama ini dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, pengagungan terhadap agama dan Rasul-RasulNya. Maka berolok-olok dengan perkara tersebut menafikan pondasi agama dan benar-benar membatalkannya." [Tafsir As Sa'di, At Taubah: 65-66]


Di dalam Al Quran Allah berfirman,


وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ


“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab: ”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah: 65-66)


SEBAB TURUNNYA AYAT

Tahukah Anda sebab turunnya ayat ini?

Dahulu ada sekelompok manusia yang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Di dalam suatu majelis mereka mengatakan,


“Kita tidak pernah melihat seperti para pembaca Al Qur'an kita ini yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya, paling penakut ketika bertemu musuh”,


Yang mereka maksudkan dengan ucapan mereka itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.


Pada waktu itu di antara mereka ada seorang dari kalangan sahabat, maka sahabat ini pun marah dengan ucapan mereka ini. Dia pun pergi dan melaporkan apa yang terjadi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelum dia sampai kepada Rasulullah, wahyu telah turun mendahuluinya.


Maka datanglah kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta maaf. Berdirilah salah seorang dari mereka dan bergantungan di tali pelana onta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan beliau mengendarainya, orang tersebut mengatakan,


“Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa penat dalam perjalanan, kami tidak memaksudkan untuk memperolok-olok, kami hanya bersenda gurau,”


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menoleh sedikit pun kepadanya dan beliau hanya membacakan ayat tadi,


قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ


"Katakanlah, apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah: 65-66)


Asy Syaikh DR. Shalih Al Fauzan, ulama besar Saudi Arabia dalam Kitab beliau Syarah Nawaqidil Islam "Penjelasan tentang Pembatal-pembatal Keislaman" menjelaskan,


"Ini merupakan dalil bahwa barangsiapa mencela Allah, Rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya atau sedikit saja dari Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia telah murtad dari Islam walaupun hanya bersenda gurau." [hal. 26]


Kalau ada yang mengatakan, "Ini kan cuma bercanda, orangnya kan mungkin tidak punya niat untuk mencela atau merendahkan. Cuma guyon saja kok.."


Maka kita katakan bahwa kasusnya sama saja dengan kisah Perang Tabuk yang telah kita sampaikan di atas. Orang yang mengolok-olok Rasulullah dan para sahabat tadi juga mengemukakan alasan yang serupa,


"Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main."


Tapi tetap saja Allah kafirkan dengan firman-Nya,


لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُم


"Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman." (At Taubah: 65-66)


Oleh karena itu saudaraku seiman, hendaknya kita jaga lisan dan sikap kita dari menjadikan perkara agama, atau simbol-simbol agama sebagai bahan candaan dan olok-olok.


Apakah tidak ada bahan candaan lain sehingga perkara yang semestinya kita agungkan dan kita sakralkan ini pun kita jadikan bahan olok-olok?


Ingatlah selalu peringatan dari Allah terhadap orang yang berolok-olok dengan agamanya,


لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُم


"Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman." (At Taubah: 65-66)


Wallahu ta'ala a'lam.


(Ditulis oleh Abu Umar Wira Bachrun Al Bankawy di Darul Hadits Ma'bar, 14 Ramadhan 1433 H – 2/8/2012)

Selasa, 17 Juli 2012

Pelajaran Penting dari Surat Al Fatihah


Berikut rekaman audio Pelajran Penting dari Surat Al Fatihah oleh Al Ustadz Abu Abdillah Sofyan Chalid Ruray. Dan silahkan klik link yang tersedia untuk mendownload.

Untuk download file bisa dilakukan dengan klik kanan -> Save Link As atau yang semisal. Untuk lebih mempermudah download, kami sarankan menggunakan software download manager seperti IDM, FDM, atau yang semisal




Kamis, 28 Juni 2012

Akibat Mencari Ridha Allooh, Bukan Mencari Ridha Manusia

 Di tengah-tengah pelajaran kitab Syarah Aqidah Ath Thahawiyyah karya Ibnu Abil 'Izz Al Hanafi, guru kami Abu Abdirrahman Fahd Al Adeni berkisah...

Dahulu, beberapa orang thalibul 'ilm murid Syaikh Muqbil diutus untuk berdakwah ke sebuah desa yang mayoritas penduduknya berpemahaman Syi'ah Zaidiyyah. Salah seorang dari mereka kemudian memberikan khutbah Jum'at di masjid desa tersebut. Selesai shalat Jum'at, orang-orang pun riuh membicarakan khutbah yang dibawakan oleh si thalib. Sampai datang seorang tua kepada si thalib lalu mencelanya,

"Kamu berkhutbah tidak membaca shalawat dan salam atas ahli bait, keluarga nabi!"

Lalu dengan tenang si penuntut ilmu menjawab, "Bahkan aku telah mengulang-ulangnya. Apakah engkau tidak memperhatikannya?"

Bapak tua itu terdiam bingung. Mungkin dia bimbang, kapan si khatib membaca shalawat kepada ahlul bait nabi. Jangan-jangan pas khutbah tadi dia yang ngantuk.

Sebenarnya yang diinginkan oleh bapak tua yang Zaidi tadi adalah membaca shalawat khusus kepada ahli bait Nabi di mukaddimah dan juga di penutup khutbah sebagaimana yang menjadi kebiasaan orang-orang Zaidiyah. Tapi bukankah di dalam khutbah, si penuntut ilmu sudah bershalawat kepada keluarga nabi setiap kali membacakan hadits?

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam mengatakan demikian dan demikian… Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam bersabda demikian dan demikian…"

Apa arti ucapan shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam? Bukankah itu maknanya semoga shalawat dan salam tercurah pada Rasulullah dan keluarga beliau?

Kemudian bapak tua tersebut berkata lagi, nampaknya dia tetap mencoba mencari-cari kesalahan si penuntut ilmu, "Kamu tadi mengimami baca alfatihah tanpa membaca bismillah!"

Kembali si penuntut ilmu menjawab dengan tenang, "Bahkan aku telah membacanya, tapi aku membacanya dengan sirr (dipelankan) tidak dengan jahr (dikeraskan) sebagaimana hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, di mana beliau berkata,

صَلَيْتُ خَلْفَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدُ ِللهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ لاَ يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فِيْ أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلاَ فِيْ آخِرِهَا

'Aku shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan di belakang Abu Bakar, Umar, serta Utsman. Dulu mereka membuka shalat dengan 'alhamdulillahi rabbil 'alamin' dan mereka tidaklah mengucapkan bismillahirrahmanirrahim di awal bacaan mereka, tidak pula di akhirnya.' (HR. Muslim)

Bapak tua tersebut masih ngotot memaksa, "Tapi madzhabnya Imam Zaid mengatakan wajib baca basmalah, shalat itu tidak sah kalau tidak baca basmalah!"

Lalu datang muadzin masjid membela sang penuntut ilmu. Dia berkata kepada orang tua tersebut, "Wahai syaikh, engkau tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti mazhabmu. Bukankah dia punya dalil Hadits Anas tadi?"

Akhirnya terjadilah perdebatan sengit antara sang muadzin dan bapak tua itu. Orang-orang pun berkumpul di sekitar mereka menambah riuk-pikuk perdebatan tadi. Sang penuntut ilmu kemudian keluar dari masjid untuk menjauhi keributan.

Di luar masjid, dia ditemui seorang bapak tua yang lain. Bapak tua ini menyalaminya, kemudian bertanya kepada si penuntut ilmu, "Wahai anak muda, kenapa engkau tidak tanazzul saja, mengikuti tata cara peribadahan mereka, agar kemudian mereka mendengarkan dan menerima dakwahmu?"

Si penuntut ilmu menjawab, "Wahai paman, bukankah Rasulullah pernah bersabda,

مَنْ أَرْضَى اللهَ بِسَخَطِ النَّاسِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسُ، وَمَنْ أَرْضَى النَّاسُ بِسَخَطِ اللهِ، عَادَ حَامِدَهُ مِنَ النَّاسِ لَهُ ذَاما

"Barangsiapa yang mengharap ridha Allah walaupun manusia murka kepadanya, maka Allah akan ridha kepadanya dan demikian juga manusia akan ridha kepadanya. Barangsiapa yang mengharap keridhaan manusia walaupun dengan kemurkaan Allah, maka orang yang dahulu memujinya akan berbalik mencelanya" (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani. Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah hal 268, terbitan Darus Salam)

Bapak tua itu kemudian berkata kepada kepadanya, "Benar, benar.. Sungguh benar ucapanmu."

Si penuntut ilmu kemudian pergi. Ketika dia shalat ashar di masjid yang lain, ada beberapa orang dari desa tersebut mendatangi dia sambil membawa senapan. Senapan itu lalu diletakkan di hadapan si penuntut ilmu. Salah seorang dari mereka lalu berkata kepada si penuntut ilmu,

"Wahai syaikh… (ini merupakan panggilan kehormatan bagi si penuntut ilmu, karena sebenarnya dia masih muda dan belumlah pantas dipanggil syaikh).. Wahai syaikh, sesungguhnya kabilah kami merasa sangat malu dengan apa yang terjadi tadi setelah shalat Jum'at. Kami seharusnya menghormati dirimu sebagai tamu di desa kami, tapi kami telah memperlakukanmu dengan kurang terhormat.

Dan orang tua yang tadi siang mencelamu sungguh dia adalah orang yang paling buruk di antara kami. Kami tidaklah pernah melihat dia shalat Jum'at melainkan hari ini, ketika dia mendengar bahwa dirimu yang akan memberikan khutbah. Oleh karena itu, ini senjata wahai syaikh kami berikan kepadamu. Terserah engkau apa hukuman yang pantas bagi kami, karena sesungguhnya ini adalah aib yang besar bagi kami. Kami sungguh merasa malu."

Dengan bijak si penuntut ilmu berkata, "Tidak ada sesuatu di antara kita. Apa yang sudah terjadi biarkanlah terjadi. Hanya saja biarkan saya dan teman-teman mengajarkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di tengah-tengah kalian."

Akhirnya para utusan kabilah tersebut menyetujui keinginan si penuntut ilmu. Mereka pun mulai mengajarkan penduduk Islam yang benar, yang sesuai dengan sunnah nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang dipahami oleh salafus shalih, generasi awal Islam.

Bahkan pada malam itu juga, di masjid yang sama -karena pada waktu itu Ramadhan- ditegakkan shalat tarawih untuk yang pertama kali sejak masjid itu dibangun, karena sebelumnya mazhab Syiah Zaidiyah tidaklah menganggap shalat tarawih berjama'ah itu sebagai sesuatu yang disyariatkan.

Maka sejak itu, berubahlah desa tersebut dari desa Syi'ah Zaidi menjadi desa ahlussunnah. Walillahil hamd.

Sungguh telah benar Nabi shallallahu 'alaihi wa'ala alihi wasallam dengan sabda beliau,

"Barangsiapa yang mengharap ridha Allah walaupun manusia murka kepadanya, maka Allah akan ridha kepadanya dan demikian juga manusia akan ridha kepadanya…"

Wallahu ta'ala a'lam bisshawab.
Ditulis di tepi Laut Arab, Madinatus Syihir -Propinsi Hadramaut Yaman pada hari Rabu tanggal 7 Sya'ban 1433 H – 27 Juni 2012

Sumber  : Al Akh Wira Bachrun Al Bankawy

Senin, 11 Juni 2012

Wanita tidak ada yang sempurna

Mungkin judul di atas merupakan salah satu ungkapan yang banyak dilontarkan oleh para ikhwan yang sedang ataupun telah menjalani proses ta’aruf. Sebenarnya ungkapan itu salah jika yang dimaksud adalah tidak ada sama sekali akhwat/wanita yang sempurna, akan tetapi bila yang dimaksud adalah sangat sedkit sekali atau bisa dibilang seribu dibanding satu adalah shohih.

Dambaan para ikhwan
Memang mencari calon pendamping hidup (baca “istri”) merupakan sekali seumur hidup(bisa lebih klo selanjutnya mau poligami), nah prinsip inilah yang membuat para ikhwan yang sedang dalam menjalani proses mencari calon istri selalu berusaha untk mendapatkan akhwat yang sesempurna mungkin. “Ya … namanya juga sekali seumur hidup…,” itulah kata mereka. Berangkat dari hal tersebut,  secara fitroh mereka akan mendambakan calon istri yang benar-benar sempurna, misalnya : cantik, agama dan akhlaknya bagus, berpenddikan, kaya, nasabnya bagus, dan lain-lain kriteria yang serba wah lainnya lah.

Realita yang ada
Di sisi lain, realita yang ada adalah sangat jarang sekali wanita/akhwat yang benar –benar sempurna. Ada akhwat yang agama dan akhlaqnya bagus, tapi ternyata kurang cantik. Ada juga yang akhwat yang cantik banget, tp ternyata agamanya kurang dan juga belum pernah ikut kajian. Ada juga akhwat yang agamanya bagus dan juga cantik, tapi ternyata orang tuanya meiliki kriteria-kriteria tertentu untuk calon suami anaknya. Untuk yang satu ini tentunya masing –masing dari mereka (ikhwan dan akhwat) harus pandai-pandai untuk melobi orang tuanya. Bahkan kadang seorang ikhwan harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk menunggu keputusan dari orang tua si akhwat ini. Padahal kita semua tau bahwa “menunggu merupakan salah satu hal yang membosankan”.  Untuk itu diperlukan kesabaran dan istiqomah, baik dari pihak ikhwan maupun akhwatnya.

Satu lagi yang belum yaitu ternyata ada juga akhwat  yang masyaallah bener-bener  hampir sempurna (kenapa kok dikatakan hampir, karena di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna kecuali Rosulullah), yaitu agamanya bagus, cantik, akhlaqnya bagus, berpenddikan, nasabnya bagus dan lain-lain lah, akan tetapi ketika ada  seorang ikhwan maju untuk ta’aruf dengan akhwat tersebut, e..ternyata ikhwan tersebut ditolak. He..he.. kasihan deh. Untuk yang satu ini jika ikhwan yang ditolak ini tidak termasuk ikhwan yang istiqomah dan sabar, maka dia akan mengalami seperti layaknya remaja gaul saat ini yaitu “patah hati”.

Sudahkah kita bercermin pada diri sendiri?
Sebelum menentukan kriteria yang kita harapkan/idam-idamkan, kita perlu bercermin pada diri sendiri dulu. Misalkan kita mengharapkan seorang akhwat yang agamanya bagus (sholihah), rajin ngaji, hafalan Al-Qur’annnya banyak, pinter bahasa arab, dan lain-lain lah. Nah di sini kita harus  melihat diri kita dulu, “apakah agama dan aqidah kita sudah bagus juga? Sudah rajinkah kita ikut kajian? Sudah berapa juz hafalan Al-Qur’an kita? singkatnya bila kita mengharapkan calon istri sholihah yang seperti Fatimah Rodhiyallahu ‘anhaa, maka apakah kita sudah sesholih sahabat Ali Rodhiyallahu ‘anhu? Atau mungkin jika kita mengaharapkan calon istri yang cantii..ik, maka kita lihat wajah kita, apakah kita juga termasuk orang yang memiliki wajah tampan. “Wong wajah-wajah sampean juga wajah bandrol gitu kok, masak mengahrapkan calon istri yang cantiik”, begitulah yang disampaikan oleh Ust. Zaenal Abidin Lc. dalam album MP3 beliau “Bila Cinta Bicara”.

Bagaimana seharusnya?
Dalam mencari sorang pasangan hidup hendaknya kita mengikuti apa yang telah Rosululloh sabdakan dalam Hadist beliau,
Dari Abi Huroiroh, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:”Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara,  karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilhlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”.
Hadist shahih. Telah dikeluarkan oleh Bukhari (no. 5090) dan Muslim (no. 1466) dan yang selain keduanya. Dikutip dari buku “Pernikahan dan hadiah untuk pengantin” karya ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, hal 96.
Nah, dari hadist di ats sudah jelas bukan, yaitu bahwa dalam mencari calon pasangan hidup yang kita utamakan adalah agama dan akhlaqnya. Untuk kriteria yang lain seperti kecantikan, harta, nasab dan lain-lain lah, itu harus menjadi pilihan yang ke nomer sekian..
Tapi…..
Sudah siapkah kita para ikhwan untuk mengamalkan hadst di atas..??? 



Ctt : Artikel di atas ditulis berdasarkan kondisi dari realita yang ada, Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengecilkan hati para akhwat, akan tetapi sebagai ajakan untuk para ikhwan supaya dalam mencari calon pasangan hidup tidak berlebih-lebihan dalam menentukan kriteria.Kritik dan saran dari pembaca sangat saya nantikan.Kritik dan saran dari pembacaKritik dan saran

Sabtu, 02 Juni 2012

Untukmu, Yang Menungguku

  http://terpaksabikinwebsite.files.wordpress.com/2010/08/pena.jpg
Aku tidak ingin kau menunggu,
Menunggu seseorang yang belum tentu baik buatmu...
Menungguku...
Ya, aku tidak ingin kau menungguku...
Berawal dari sebuah kesalahan,
Yang dipicu oleh nafsu setan...
Akupun mengucapkan sesuatu tanpa terpikir,
Sebuah ucapan yang membuatku seperti disambar petir...

Telah sampai kepadaku kabar tentangmu...
Akupun mengatakan bahwa aku menginginkanmu...
Lalu sampailah ucapanku padamu...
Padahal, belum ada harta dan pekerjaan pada diriku,
Yang bisa kusandingkan untukmu...

Ucapanku hanyalah sebuah ucapan,
Ucapan yang tidak ada kepastian...
Seperti memesan sebuah rumah mewah,
Padahal di tangan hanya ada sepuluh ribu rupiah...

Lalu sampailah kepadamu kabar tentangku,
Kabar yang cukup menyenangkan kalbumu...
Sampai-sampai kau memilihku,
Ketika dua orang 'datang' kepadamu...

Sungguh aku tahu perbuatanku itu salah...
Yang menyebabkan aku selalu dirundung gelisah...
Aku membuatmu menunggu seseorang yang belum tentu,
Dan aku membuatmu 'menolak' seseorang yang 'datang' kepadamu...

Sungguh ini adalah sebuah kesalahan,
Dan harus segera dihapuskan...
Aku mendatangi orang yang kau tolak untuk meminta penghalalan,
Dan aku mengatakan kepadamu sebuah pembatalan...

Aku tarik ucapanku di waktu dulu...
Aku katakan aku mundur darimu...
Aku tahu kebingungan yang sedang kau rasakan...
Karena tiba-tiba aku berubah pikiran...
Berubah pikiran tanpa alasan...

Aku tidak tahu apakah ini akan menghapus kesalahan,
Atau justru membuat sebuah kesalahan...

Aku hanya tidak ingin kau menungguku,
Menunggu orang yang belum tentu baik buatmu...
Menunggu dengan sebuah ketidakpastian,
Menunggu dengan sebuah ketidakjelasan...

Jika kau memang jodohku,
Allah akan mempertemukanku denganmu...
Aku akan bertemu denganmu,
Tanpa kau menungguku...

Sabtu, 26 Mei 2012

Sekilas tentang Perkuliahan

From: Nurijas (Nurijas)
Sent: Monday, June 20, 2005 4:42 PM
To: Rihlatut Thullabul 'Ilmiy (thullabul-ilmiy@yahoogroups.com); Indas Salaf (Thullabul-ilmiy@...)
Cc: 'Ustadz Ali Ismah'
Subject: FW: Fatwa Tentang Kuliah Ikhtilathiyah (Tolong disebarkan)
--- In thullabul-ilmiy@yahoogroups.com, Ayub Abu Ayub <abuayub80> wrote:</abuayub80>
Jawaban Terhadap Syubhat atau Pengkaburan yang Dilakukan oleh Para Mahasiswa yang Belajar Di Tempat Kuliah Ikhtilathiyah (Campur Baur Pria dan Wanita)

Fatwa Asy Syaikh Abu Abdirrahman Yahya bin Ali Al Hajuri Hafidhohullah

 Soal:

"Di tempat kami ada sebagian salafiyin yang telah mengenal dakwah salafiyah setahun atau dua tahun atau bahkan lebih. Bersamaan dengan itu mereka masih terus belajar di bangku perkuliahan ikhtilathiyah dan memakain pantaloon dan berkata, "Ini termasuk dalam bab mengambil bahaya yang paling ringan dari dua jenis amalan yang berbahaya." Dari sisi bahwasanya meninggalkan kuliah tersebut merupakan sebab kedurhakaan kepada orang tua. Dan telah diketahui bersama bahwasanya memakai pantaloon itu lebih ringan bahayanya dari pada durhaka kepada orang tua. Demikian pula belajar di tempat itu. Pertanyaannya, bagaimanakah kebenaran dari ucapan itu? Semoga Allah membalas Asy Syaikh dengan kebaikan."

 Jawab:

"Ucapan ini tidak benar. Bahwasanya mereka belajar di bangku perkuliahan ikhtilathiyah memakai pakaian orang kafir dan berkata,  Artinya,"Ta'atilah orang tua kalian!" Ini tidak benar. Nabi shalallahu 'alaihi wa aalihi wa sallam berkata,  Artinya, "Tiada ketaatan kepada makhluk dalam kedurhakaan kepada Allah" (HR Bukhari 7145 dan Muslim 1840 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu)

Juga beliau shalallahu 'alaihi wa aalihi wa sallam berkata :
Artinya:"Ketaatan hanyalah di dalam perkara yang ma'ruf." (Hadits Jabir riwayat Muslim)

 Dan Allah berfirman :
 Artinya:"Dan apabila keduanya memaksamu untuk berbuat syirik kepadaKu, yang engkau tidak punya ilmu tentangnya, maka janganlah engkau taati keduanya dan tetaplah engkau pergauli keduanya di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu. Kemudian hanya kepadaKulah tempat kembali kalian. Lalu akan Aku beritakan tentang apa yang telah kalian lakukan."(Luqman 15)

 Maka perkara yang wajib dikerjakan oleh para orang tua dan para anak dan seluruh masyarakat adalah memperhatikan dan mementingkan ketaatan kepada Allah Ta'ala. Adapun barang siapa yang memerintahkan untuk berbuat maksiat, tidak boleh ditaati siapapun dia. Maka istihsan semacam ini merupakan kehinaan dan pengkaburan fatwa bahwasanya hal tersebut merupakan ketaatan.

 Kami berpandangan untuk saudara-saudara kami salafiyin dalam rangka nasihat karena Allah : Jauhilah oleh kalian istihsanaat semacam ini dan juga jauhilah kemaksiatan-kemaksiatan yang bernaung di bawah alasan-alasan seperti ini. Jauhilah!

Allah berfirman :
Artinya:"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah Dia akan menjadikan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya."(Ath Tholaq 2-3)

Ucapan yang mereka katakan itu tidak benar.
(Al As'ilah Indonesiah 2 ramadhon 1424 H)
*Penerjemah : Abu Fairuz Al Indonisi*
Sumber : http://groups.yahoo.com/group/Salafi-Indonesia/message/501


sedang dari sumber lain (http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=180) tertulis demikian :


Soal:
"Di tempat kami ada sebagian salafiyin yang telah mengenal dakwah salafiyah setahun atau dua tahun atau bahkan lebih. Bersamaan dengan itu mereka masih terus belajar di bangku perkuliahan ikhtilathiyah dan memakai pantaloon dan berkata, "Ini termasuk dalam bab mengambil bahaya yang paling ringan dari dua jenis amalan yang berbahaya." Dari sisi bahwasanya meninggalkan kuliah tersebut merupakan sebab kedurhakaan kepada orang tua. Dan telah diketahui bersama bahwasanya memakai pantaloon itu lebih ringan bahayanya dari pada durhaka kepada orang tua. Demikian pula belajar di tempat itu. Pertanyaannya, bagaimanakah kebenaran dari ucapan itu? Semoga Allah membalas Asy Syaikh dengan kebaikan."


Jawab:

"Ucapan ini tidak benar. Bahwasanya mereka belajar di bangku perkuliahan ikhtilathiyah memakai pakaian orang kafir dan berkata, "Ta'atilah orang tua kalian!" Ini tidak benar. Nabi shalallahu 'alaihi wa aalihi wa sallam berkata, "Tiada ketaatan kepada makhluk dalam kedurhakaan kepada Allah" (HR Bukhari 7145 dan Muslim 1840 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu)

Juga beliau shalallahu 'alaihi wa aalihi wa sallam berkata :

"Ketaatan hanyalah di dalam perkara yang ma'ruf." (Hadits Jabir riwayat Muslim)


Dan Allah berfirman :


Artinya:"Dan apabila keduanya memaksamu untuk berbuat syirik kepadaKu, yang engkau tidak punya ilmu tentangnya, maka janganlah engkau taati keduanya dan tetaplah engkau pergauli keduanya di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu. Kemudian hanya kepadaKulah tempat kembali kalian. Lalu akan Aku beritakan tentang apa yang telah kalian lakukan."(Luqman 15)


Maka perkara yang wajib dikerjakan oleh para orang tua dan para anak dan seluruh masyarakat adalah memperhatikan dan mementingkan ketaatan kepada Allah Ta'ala. Adapun barang siapa yang memerintahkan untuk berbuat maksiat, tidak boleh ditaati siapapun dia. Maka istihsan semacam ini merupakan kehinaan dan pengkaburan fatwa bahwasanya hal tersebut merupakan ketaatan.


Kami berpandangan untuk saudara-saudara kami salafiyin dalam rangka nasihat karena Allah : Jauhilah oleh kalian istihsanaat semacam ini dan juga jauhilah kemaksiatan-kemaksiatan yang bernaung di bawah alasan-alasan seperti ini. Jauhilah!

Allah berfirman :


Artinya:"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah Dia akan menjadikan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya."(Ath Tholaq 2-3)

Ucapan yang mereka katakan itu tidak benar.


(Al As'ilah Indonesiah 2 ramadhon 1424 H)


Soal:

"Apabila kita mengikuti apa yang telah disebutkan terdahulu, apakah berarti kita menyelesihi hikmah, karena kita tidak memulai dakwah dengan yang terpenting yang mana aqidah merupakan perkara yang terpenting untuk didahulukan dalam berdakwah. Semoga Allah membalas Asy Syaikh dengan kebaikan?"


Jawaban:

"Jawaban yang telah mereka dengar dengan seizin Allah, cukup. Mereka telah terperosok ke dalam kesalahan, bahkan ke dalam kemaksiatan dengan melakukan ikhtilath. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa aalihi wa sallam berkata:

"Hindarilah oleh kalian untuk masuk kepada para wanita!" Mereka berkata, "Wahai Rasulullah! Jelaskanlah kepada kami tentang Al Ham (Ipar)!" Beliau menjawab, "Ipar adalah kematian"

(HR Bukhari no 5232 dan Muslim 2172 dari Uqbah bin 'Amir radhihallahu anhu)


Allah berfirman:


Artinya:"Dan jika kalian meminta suatu keperluan kepada mereka kaum wanita, mintalah kepada mereka dari balik hijab."(Al Ahzab 53)


Dan Nabi shalallahu 'alaihi wa aalihi wa sallam berkata:

"Hampir-hampir harta yang terbaik bagi seorang muslim adalah kambing. Yang digembalakan di lereng-lereng pegunungan. Dia lari membawa agamanya untuk menghindari fitnah."(Hadits Abu Said Al Khudri di riwayatkan oleh Bukhari 7088)


Tinggalnya seseorang di suatu lembah dari lembah-lembah pegunungan dengan keadaan kokoh di atas agamanya, maka dia berada pada kemuliaan, kebaikan dan keselamatan dalam agamanya.


Tatkala diriku bernaung di sebuah bukit

Diiringi awan yang mencurahkan hujan di puncak gunung

Yang menjulang tinggi dengan mendung yang menyelimuti

Tatkala daku berada di sebuah lembah yang curam

Seakan-akan di ujung pena diiringi kicauan burung di petang hari

Aku bertetangga di tepi lembah itu

Dengan burung hantu dan burung pipit

Dan itulah tetangga yang paling baik dan utama bagi manusia

Di sana benar-benar jernih sumber kehidupanku

Dan kalau toh tidak maka sumber kehidupan adalah pemandangan yang keruh

Dan bukanlah suatu kehinaan bila seorang yan mulia menyelematkan diri sendiri

Akan tetapi kehinaan itu ketika kelemahannya yang membela

Dan sungguh telah berhijrah Nabi dan shahabatnya sebelumku

Sebagaimana Ja'far telah melarikan diri ke negeri Najasyi


Alangkah indahnya ucapan Ibnu Wazir ini. Semoga Allah merahmatinya.

Manusia itu memungkinkan bagi dirinya untuk beribadah kepada Allah dan nantinya berjumpa dengan Allah Ta'ala dan menyembahNya di atas jalan yang benar walaupun tinggal seorang diri.

Jangan merasa sendirian di atas jalan ini wahai saudaraku. Engkau akan mati sendirian dan dibangkitkan sendirian pula. Apakah engkau ingin duduk bersama masyarakat dan menghinakan kemaksiatan dari sisi engkau membedakan diri dari masyarakat. Tidak benar seperti itu. Hal itu tidak benar. Agama Allah yang benar, menolak pengurasan juga menolak segala pemberontakan terhadap Al Haq juga tidak menerima istihsanat orang-orang dalam perhitungan agama. Dan ini cukup bagi orang yang dikehendaki Allah untuk memilik pandangan tajam kepada Al Haq. Juga bagi orang yang dikehendaki Allah untuk meraih kemuliaan. Dan orang terlihat ingin melepaskan diri. Hendaknya dinasihati kalau orang-orang yang bercampur baur dengan para wanita itu mau menerima nasihat, juga para pemakai pantaloon maka baik sekali. Jika tidak, maka agama ini tidak di tolong dengan jasa orang yang durhaka walaupun hal itu bisa saja terjadi sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wa aalihi wa sallam berkata

"Sesungguhnya Allah menolong agama ini dengan orang yang rusak"(HR Bukhari 3062 dan Muslim 111 dari Abu Hurairah)


Akan tetapi kemaksiatan itu merupakan sebuah kehinaan. Maka jangan memperbanyak kehinaan itu dengan kemaksiatan ataupun kekacauan, penipuan terselubung dan kesia-siaan.

(Al As'ilah Al Indonesiah 6 Ramadhon 1424 H)

Penerjemah: Abu Fairuz

Senin, 21 Mei 2012

Dauroh Sragen


Silahkan download dauroh sehari Sragen, Ahad, 20 Mei 2012

Tempat : Masjid Raya Al Falah Sragen
Waktu : pukul 09.30 Wib s/d Dzuhur
Materi : “Menciptakan Stabilitas Keamanan dan Kedamaian bersama Pemerintah”
Pemateri : Al Ustadz Usamah Mahri, Lc


Untuk download file bisa dilakukan dengan klik kanan -> Save Link As atau yang semisal. Untuk lebih mempermudah download, kami sarankan menggunakan software download manager seperti IDM, FDM, atau yang semisal


Klik DISINI untuk mendownload