Imam Malik رحمه الله telah berkata : كُلُّ خَيْرٍ فِي إتِباَعِ مَنْ سَلَف وَ كُلُّ شَرٍّ فِي إبْتِداَعِ مَنْ خَلَفِ

“Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)"

Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 November 2012

كيفية تسريح الشعر | Cara Menyisir Rambut

Oleh : الشيخ محمد بن إبراهيم آل الشيخ


Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh ditanya:
Jawaban:  Adapun bagi wanita, al-Bukhari rahimahullah menyebutkan : ‘Bab menjadikan rambut wanita menjadi tiga kepang’. Kemudian ia menyebutkan dengan sanadnya dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Kami mengepang  rambut putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- maksudnya tiga kepang. Waki’ berkata: Sufyan berkata: Ubun-ubunnya dan dua tanduknya.’ Hingga di sini ucapan al-Bukhari. Kepang ini berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya dengan sanadnya dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اِغْسِلْنَهَا وِتْرًا وَاجْعَلْنَ شَعْرَهَا ضَفَائِرَ)) [ رواه البخاري ]
‘Mandikanlah dia secara ganjil dan jadikanlah rambutnya beberapa kepang.’ (HR. Bukhari)
Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ummi ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اِغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا وَاجْعَلْنَ لَهَا ثَلاَثَ قُرُوْنٍ)) [ رواه ابن حبان ]
‘Mandikan dia tiga kali, atau lima kali, atau tujuh kali, dan jadikanlah baginya tiga kepang.’ (HR. Ibnu Hibban)
Dalam Mushannaf Abdurrazzaq rahimahullah dengan sanadnya dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Kami menyanggul tiga kepang; satu di ubun-ubunnya dan dua di tanduknya, dan kami meletakkannya di belakangnya. Ibnu Daqiq al-‘Ied berkata: Dalam hadits ini merupakan anjuran menyisir rambut dan mengepangnya.
Adapun yang dilakukan sebagian wanita muslimah di masa sekarang berupa memisah rambut kepala dari sisi dan mengumpulkannya dari sisi ubun-ubun, atau menjadikannya di atas kepala, seperti yang dilakukan oleh wanita Prancis, maka hal ini tidak boleh karena termasuk menyerupai wanita kafir.
Imam Ahmad rahimahullah dan Abu Daud rahimahullah meriwayatkan dengan sanad mereka kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ)) [ رواه أحمد ]
‘Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari golongan mereka.’ Ibnu Hibban dan al-Hafizh al-‘Iraqi rahimahumallah menshahihkan hadits ini.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Isnadnya baik. Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata: Hasan.  Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits yang panjang, ia berkata:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا بَعْدُ: رِجَالٌ مَعَهُ سِيَاطٌ كأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا الناس  وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُؤُوْسِهِنَّ كأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ العجاف لَايَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَيَجِدْنَا رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا) [ رواه مسلم)
“Ada dua golongan penghuni neraka dari umatku yang belum kulihat: laki-laki yang bersamanya ada cemeti seperti ekor sapi, mereka memukul hamba-hamba Allah dengannya dan wanita-wanita yang berpakaian (namun seperti) telanjang, berlenggang lenggok, di atas kepala mereka seperti ponok unta, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium aroma surga dan aromanya bisa tercium dari jarak seperti ini dan seperti ini.” HR. Muslim.
Sebagian ulama menafsirkan sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Mailaat mumiilaat’, bahwa mereka menyisir dengan sisiran miring, yaitu sisiran para pelacur. Ini adalah sisiran wanita-wanita Prancis dan yang mengikuti langkah mereka dari wanita muslimah.
Kedua: adapun rambut kepala wanita maka tidak boleh mencukurnya (sampai pendek). Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa`i dalam Sunan-nya, dengan sanadnya dari Ali radhiyallahu ‘anhu, dan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanadnya dalam Musnad-nya, dari Utsman radhiyallahu ‘anhu, dan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir rahimahullah dengan sanadnya dari Ikramah rahimahullah, mereka berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang wanita mencukur rambutnya.’ Dan apabila larangan datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka menunjukkan haram selama tidak ada dalil lain. Mulla Ali Qari berkata dalam al-Mirqaat Syarh Misykat: ‘Wanita mencukur rambutnya’ karena kepang rambut bagi wanita bagaikan jenggot bagi laki-laki dalam bentuk dan keindahan. Adapun mengambil sedikit dari bawah kepang, maka dalam Shahih Muslim, dari Abu Salamah rahimahullah bin Abdurrahmah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Aku berkunjung kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha bersama saudaranya sesusu, maka ia bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari junub, ia (Aisyah radhiyallahu ‘anha) meminta bejana sekitar ukuran satu gantang, lalu ia mandi. Di antara kami dan dia ada hijab, ia menyiram kepalanya tiga kali...dan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil (mencukur) rambutnya hingga mencapai daun telinga bawah (tempat anting-anting). An-Nawawi rahimahullah berkata: Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: ‘Sudah dikenal bahwa wanita arab membuat kepang rambut dan kemungkinan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal ini setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mereka meninggalkan berhias diri dan merasa tidak perlu memanjangkan rambut serta karena ingin meringankan beban kepala mereka. Dan yang disebutkan Qadhi ‘Iyadh rahimahullah ini bahwa mereka melakukannya setelah wafat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan pada masa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti inilah yang dikatakan oleh yang lainnya. Dan ia suatu kemestian dan tidak mungkin mereka melakukannya di masa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan padanya merupakan dalil boleh mencukur rambut wanita. An-Nawawi rahimahullah berkata pula: Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: ‘Zhahir hadits menunjukkan bahwa keduanya melihat perbuatannya (Aisyah radhiyallahu ‘anha) di kepalanya dan bagian atas tubuhnya yang boleh bagi mahram melihatnya.[1]




[1] Fatawa Wa Rasa`il  Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu Syaikh 2/45 dengan ringkas.

Sabtu, 03 November 2012

Untuk Saudara Kami, Para Penegak Khilafah




perhatikanlah sejenak, saudaraku
wahai penegak khilafah.
adakah disismu uang ?
berapa rupiahkah ia ?
dari seribu sampai seratus ribu
tidak kau pernah memperhatikannya ?
sudut kanan atas
dimana simbol itu berada

ya.. kau benar !
burung garuda-lah simbol itu !
negara yang berlambang pancasila
yang ingin kau ubah menjadi negara islam

tidak..
tidak wahai saudaraku !
bukan aku menolak untuk mendirikan khilafah
coba engkau renungkan barang sejenak

lihatlah siapa diri kita ?!
ibu kita melahirkan dengan selamat
atas kebaikan siapa ?
kita dapat bersekolah
SD, SMP, SMA atau bahkan hingga UNIVERSITAS
yang mana kita menikmati fasilitasnya
dengan segala beasiswanya
kita terus kejar siang malam
atas kebaikan siapa ?




engkau gaungkan demonstrasi
sana sini kau teriakkan khilafah
pernahkah terbetik dalam hatimu ?
bukankah demonstrasi ciri dari negara demokrasi ?
lalu untuk apa kau inginkan khilafah
jika yang engkau koarkan demokrasi ?!!

ayo lahh.. ku ajak kau berfikir waras
merenunglah sejenak
apakah mungkin sebuah bangunan berdiri tanpa pondasi ?
ataukah mungkin kau yang berimajinasi ?

ingatlah, yaa ikhwah !
negara ini akan tetap bobrok
selagi masyarakatnya bobrok
sebagaimana engkau !
engkau tidak akan pernah sadar
bahwa khliafah itu
penting hingga engkau belajar
begitu pun mereka !!!

percuma saja engkau berteriak
koar-koar layaknya orang kesurupan
jika yang kau teriaki tak mengerti
apa maksud tujuanmu





lantas, apakah bom yang akan menjadi
andalanmu melawan mereka ?
jika kau masih saudaraku, maka dengarlah !!
sabda nabi yang mulia
Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allooh
dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.[*]

aku tak rela jika kau bunuh saudaraku
aku tak rela jika kau hina pemimpinku
aku tak rela jika kau merusak negaraku
dan aku tak rela jika engkau
menjadi anjing-anjing neraka !!!

ku harap kau mengerti,
wahai pemilik hati


========================================================================
[*] Shahîh. HR an-Nasa`i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan an-Nasa`i dan lihat Ghayatul- Maram fi Takhrîj Ahadîtsil-Halal wal-Haram (no. 439).

[**] Dikutip dari Abu Zulfa Alif Al Maghtaniy

Jumat, 19 Oktober 2012

Dia-lah Pemuda Idaman ( Mendulang Faedah dari Syaikh Al Albaniy dan Syaikh Muqbil -rohimahumallooh- )

"SEMUA DIMULAI DENGAN KETEGUHAN HATI"

Bila kita membaca biografi para ulama, kita akan dapati bahwa permulaan mereka dalam menimba ilmu tidaklah mudah. Mereka justru mendapat tantangan dari orang-orang terdekat mereka.

Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, meski ayah beliau seorang ahli fiqh madzhab Hanafi, tapi sang ayah tidaklah serta merta mendukung beliau mempelajari ilmu hadits. Ayah be
liau sering mengulang-ulang ucapannya, "Jangan belajar hadits, barangsiapa yang belajar hadits maka dia akan bangkrut…" melarang anaknya untuk belajar hadits.

Tapi Al Albani muda tetap teguh dengan pendiriannya. Sedikit demi sedikit dia tekuni ilmu hadits sampai beliau pun menjadi ulama besar dalam ilmu hadits. Dan lihatlah hasilnya sekarang, hampir semua kitab-kitab ahlussunnah mengambil faidah dari hasil penelitian beliau terhadap hadits. Sehingga kita dapati di kitab-kitab pernyataan, "Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani… Hadits ini didha'ifkan oleh Al Albani.. Hadits ini dihasankan oleh Al Albani.."

Ini semua bermula dari keteguhan hati beliau untuk menempuh jalan yang mulia, jalan seorang penuntut ilmu.

Selain beliau ada Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i. Siapa yang tidak kenal beliau? Beliau adalah ulama besar Yaman. Murid beliau ribuan, berasal dari segenap penjuru dunia: Mulai dari Tunisia, Aljazair, Libia, Sudan, Mesir, Syam, Negara-negara teluk, Somalia, Djibouti, Ethiopia.

Kemudian dari negara-negara Barat: Britania, Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Amerika, Kanada. Bahkan juga banyak murid-murid beliau yang berasal dari Nusantara (semoga Allah menjaga dan mempersatukan hati-hati mereka di atas al haq dan menjauhi mereka dari perpecahan).

Di awal perjalanan beliau menuntut ilmu, ibu beliau tidaklah menyetujui langkah beliau untuk belajar. Sang ibu ingin beliau bekerja sebagaimana pemuda lain di kampungnya. Al Wadi'i muda tetap teguh hatinya untuk belajar. Meski tidak setuju dengan jalan yang ditempuh sang anak, ibu beliau hanya memarahinya sambil berkata, "Allahu yahdik, Allahu yahdik.. Semoga Allah menunjukimu, semoga Allah menunjukimu…"

Asy Syaikh kemudian pergi ke Saudi Arabia. Di sana beliau bekerja sebagai seorang satpam di sebuah apartemen. Malam harinya ketika tidak bekerja, beliau memanfaatkan waktu untuk belajar. Sampai akhirnya ketika dibuka pendaftaran mahasiswa baru Universitas Islam Madinah, beliau pun mendaftar dan lulus diterima menjadi mahasiswa dengan beasiswa. Beliau pun belajar dengan sungguh-sungguh.

Menurut apa yang saya dengar dari murid-murid beliau, waktu diterima sebagai mahasiswa, usia syaikh sekitar tigapuluh lima tahun. Usia yang tidak muda bagi seorang mahasiswa baru.

Di Madinah beliau belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan beliau mengisi waktu kosong beliau dengan kuliah instisab (semacam Universitas Terbuka) sehingga ketika lulus sarjana, beliau pun lulus dengan dua gelar. Satu gelar di bidang aqidah, satunya lagi di bidang fiqh.

Begitu lulus sarjana, beliau pun mendaftar di program magister hadits sampai selesai. Disertasi beliau waktu itu mendapatkan pujian dari para penguji. Bahkan salah seorang dari mereka mengatakan "Ini bukanlah karya seorang mahasiswa magister, ini karya seorang Doktor!"

Ketika beliau kembali ke Yaman, beliau pun didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai dunia untuk belajar, menuntut ilmu dari beliau. Dan dari didikan beliau –yang merupakan keutamaan dari Allah subhanallah ta'ala- keluarlah puluhan ulama, dan ribuan dai yang kini berdakwah di berbagai penjuru dunia.

Ini semua bermula dari keteguhan hati beliau untuk menempuh jalan yang mulia, jalan seorang penuntut ilmu.

Jadi para pemuda, para penuntut ilmu, jangan pernah patah semangat dalam menimba ilmu. Janganlah menjadi pemuda yang cengeng, diberi sedikit tantangan langsung melempem, meninggalkan thalibul ilmi. Milikilah semangat yang membaja, hati yang kokoh untuk tetap berada di jalan ini.

Jalan penuntut ilmu dari zaman para sahabat Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, kemudian di zaman Imam Asy Sya'fi'i, Imam Syu'bah, Imam Al Bukhari, Imam Ahmad, dll. semuanya tidak lepas dari tantangan. Hendaknya kita tetap memiliki kemauan yang keras, cita-cita yang tinggi sebagaimana ucapan seorang penyair:

فكن رجلاً رجله في الثرى وهامة همته في الثريا

Maka jadilah seorang yang kakinya berada di atas tanah
Sedangkan cita-citanya setinggi bintang Tsurayya

Ditulis di Hadramaut pada malam Kamis 2 Dzulhijjah 1433 H – 17/10/2012
Oleh : Al Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy

Rabu, 15 Agustus 2012

Sang Rahib, Seorang Gadis dan Iblis



Dahulu, di kalangan bani isroil terdapat seorang rahib (ahli ibadah). Dia menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah kepada Allah. Ditempat lain, tersebutlah 3 orang lelaki bersaudara yang memiliki seorang saudara perempuan yang masih gadis. Ketika itu, ketiganya mendapat panggilan dari penguasanya untuk pergi berperang. Mereka kebingungan kepada siapakah saudara perempuan mereka akan dititipkan untuk dijaga dan dilindungi.

Walhasil, ketiganya akhirnya bersepakat untuk menitipkan saudara perempuannya itu kepada ahli ibadah. Mereka percaya penuh, bahwa sang rahib mampu menjaganya. Benarlah, mereka pun membawa si gadis menuju tempat peribadahan sang rahib. Pada awalnya sang rahib sempat berat hati untuk memikul beban amanah ini. Dia menolaknya dan ber-ta’awudz kepada Allah dari apa yang mereka minta. Akan tetapi, mereka bertiga terus membujuknya hingga ia pun terpaksa menerima tawaran tersebut. Sang rahib lantas memerintahkan ketiganya agar menempatkan si gadis di rumah yang ada di depan tempat ibadahnya. Ketiga bersaudara itu pun berangkat berperang meninggalkan si gadis di tempat tersebut.



Kini, setiap hari sang rahib meletakkan makanan di depan pintu tempat peribadahannya, menutup pintunya dan naik ke tempat ibadahnya, kemudian memerintahkan si gadis agar mengambilnya. Hal ini berlangsung beberapa saat lamanya.

Dan tentu musuh kita, iblis, pun kembali beraksi melancarkan tipu dayanya. Iblis membisiki sang rahib dan menghasung untuk selalu berbuat kebajikan. Perhatikan, terkadang iblis memerintahkan kita untuk melakukan suatu kebajikan, akan tetapi sebenarnya ada hal lain yang hendak ia tuju. Kita harus selalu waspada.

Si iblis berkata kepadanya, “Seandainya engkau mau mengantarkan makanan ini di depan rumah gadis itu, pahalanya pasti lebih berlipat. Apakah engkau tidak khawatir jika ia keluar dari rumahnya akan terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan. Bagaimana jika ada seseorang yang melihatnya kemudian menjadi fitnah?” Sang rahib pun terkena rayuannya. Ia pun mulai mengantarkan makanannya di depan rumah si gadis. Hal ini berlangsung beberapa lamanya.

Iblis kembali menemuinya.seperti sebelumnya, ia pun berlagak seperti seorang pemberi nasihat. “Cobalah kau ajak bicara dia, itu akan menjadikan hatinya merasa lebih tenang. Engkau tidak tahu, barangkali di rumah itu hatinya selalu galau”. Kembali, sang rahib termakan bujuk rayuannya. Ia pun mulai berani berbincang dengan si gadis dari atas tempat peribadahannya.

Waktu pun terus berlalu, iblis kembali menemuinya. Tentu, dengan berlagak seorang pemberi nasihat ia kembali berkata, “Cobalah kau turun menemuinya, kau duduk di depan pintu tempat ibadahmu itu, pasti hal ini akan lebih menenangkannya. Dan pahala yang engkau dapatkan pun semakin besar.” Sang rahib pun kembali mematuhi bisikan maut iblis. Sang rahib telah turun dari tempat ibadahnya, duduk di teras tempat si gadis dan berbincang dengannya. Hal ini pun berlangsung lama.

Kembali, iblis menemuinya. Ia memerintahkan sang rahib untuk semakin mendekatinya. Ia harus duduk di depan rumah si gadis. “ itu akan lebih menenangkannya” hasut iblis. Dan sang rahib pun memenuhi rayuannya. Ia lakukan apa yang dikatakan oleh iblis.

Demikian, hal ini juga belarngsung lama. Iblis tiada bosan kembali menemuinya, “Cobalah kau masuk menemuinya di dalam rumah. Berbincang-bincanglah dengannya. Pasti hatinya akan semakin tentram dan tenang”. Kali ini, mulailah sang rahib masuk menemuinya di dalam rumah. Ia habiskan siang harinya untuk berbincang-bincang bersama si gadis. Jika senja datang ia pun naik ke tempat peribadahannya. Tak menyia- nyiakan kesempatan, si iblis pun mulai menghias-hiasi si gadis dimata sang rahib. Dan tak lama berselang, sang rahib pun berani menyentuh dan menciumnya. Hingga akhirnya, ia pun menghamilinya. Si gadis benar-benar hamil, dan melahirkan seorang anak.

Setelah kelahiran si bayi, iblis menaku-nakuti sang rahib, “Celaka kamu, jika ketiga saudaranya datang, aibmu ini pasti terbongkar. Mereka tak akan membiarkanmu. Mereka akan membunuhmu. Cepat, kau ambil anak itu. Bunuh dan kuburkan dia segera. Ibunya pasti akan menutup mulut. Tak mungkin dia akan memberi tahukan hal ini kepada saudaranya.” Sang rahib kembali termakan rayuan sesatnya. Ia pun membunuh anak itu.

Setelah sang rahib membunuh anaknya, “Kau kira ibu si bayi akan diam saja dan tidak akan mengadukan perbuatanmu ini ?! Ingat, kau berzina dengannya dan membunuh anaknya. Ia pasti akan mengungkapkannya. Cepat, temui ibunya! Bunuh dia sekalian dan kuburkan bersama anaknya!” iblis memprovokasi. Ia terus memaksanya hingga kembali, tanpa rasa iba, sang rahib membunuh perempuan itu dan menguburkannya dalam satu liang kubur. Ia letakkan di atasnya sebongkah batu besar.

Waktu pun berlalu cepat. Sang rahib kembali menekuni rutinitasnya. Dan tibalah saatnya ketiga bersaudara itu pulang dari medan pertempuran. Mereka pun segera menemui sang rahib. Rindu bersua dengan satu-satunya saudari yang mereka punya. Namun harapan mereka sirna sudah. Sang rahib, dengan penuh isak memberi tahukan bahwa si gadis telah meninggal. Tak lupa, sang rahib juga mendoakan rahmat untuknya. “Dia adalah wanita yang baik. Inilah kuburannya”. Kata sang rahib sembari menunjukkan kuburan yang sebenarnya bukan kuburan si gadis. Betapa sedih dan pilu hati mereka bertiga. Mereka pun menangisi kepergiannya dan terus mendoakan kebaikan untuknya.

Mereka pun pulang ke rumahnya. Ketika malam menjelang dan mereka pun tertidur pulas. Iblis melanjutkan misi jahatnya. Didalam mimpi, ia mendatangi mereka bertiga. Di mulai dari yang tertua, kedua, kemudian yang paling bungsu. Dalam mimpi itu ia menanyakan perihal saudarinya. Tentu, mereka pun mengabarkan kepadanya sebatas apa yang mereka ketahui. Persis seperti apa yang disampaikan sang rahib.

“Dusta dia!” kata iblis. “Sebenarnya ia telah menzinainya, bahkan ia sempat melahirkan seorang anak, akan tetapi sang rahib membunuhnya dan anaknya sekaligus karna ia takut kepada kalian. Ia mengubur keduanya di belakang pintu arah kanan rumah si gadis dahulu tinggal. Pergilah ke tempat tersebut. Masuklah ke dalamnya, pasti, kalian akan menemukan keduanya. Persis, seperti yang aku katakan.

Pagi menjelang, mereka bertiga bangun dalam keadaan penuh heran. Bagaimana tidak ? ketiganya bermimpi dengan mimpi yang sama. “Ah ini kan sekedar mimpi biasa. kita tidak perlu menggubrisnya” kata yang paling tua. “Tidak. Kita harus mengeceknya” sahut si bungsu. Mereka pun akhirnya bersepakat untuk pergi ke tempat tersebut. Mereka masuk ke dalam rumah. Mereka cocokkan dengan apa yang mereka dapatkan di dalam mimpi. Dan, mereka terkejut. Mereka temukan jenazah si gadis dan anaknya di tempat tersebut. Tak menunggu waktu, segera, mereka menginterogasi sang rahib. Tak bisa mengelak, ia pun mengakui kebejatannya.

Ketiganya pun menemui pengusa daerah itu. Mengadukan kelakuan sang rahib. Sang rahib diminta turun dari tempat peribadahannya untuk dibunuh di tiang salib. Menjelang eksekusi, kembali, si iblis menemuinya “Kau tahu kawan, akulah yang telah menghasutmu hingga kau terpedaya olehku. Kau menzinainya dan membunuhnya beserta anaknya. Kalau kau mau mentaatiku dan kufur kepada Allah. Pasti aku akan menyelamatkanmu.” Tak di nyana, sang rahib menuruti kemauannya. Kini, ia telah kafir terhadap Allah. Rabbnya yang selama ini selalu ia sembah.

Setelah tujuannya tercapai, ia pun segera meninggalkannya. Sang rahib pun mati di tiang salib. Meninggal dalam keadaan kafir kepada Allah.

(Sumber – Majalah Tashfiyyah edisi 16- )

Selasa, 07 Agustus 2012

Hukum Menjadikan Agama Sebagai Bahan Candaan dan Olok-Olok

Fenomena berolok-olok dalam perkara agama ini bukanlah perkara yang langka bagi kita. Seolah-olah bukanlah lagi hal yang sakral, sering sekali kita temui di sekitar kita orang yang dengan mudahnya menjadikan perkara agama sebagai bahan olok-olok untuk ditertawakan.

Dan sungguh disayangkan, sebagian orang yang melakukan perkara itu mala

h orang-orang yang dianggap sebagai dai, para juru dakwah yang mengisi acara-acara ceramah agama di tengah-tengah masyarakat.

Sebagian orang berolok-olok dengan firman Allah,


وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ


"Dan rukuklah kalian bersama orang yang ruku'" (Al Baqarah: 43)


Mereka plesetkan dengan, "Dan merokoklah kalian bersama orang yang merokok." Dan mereka jadikan ayat ini sebagai dalil disyariatkannya "Merokok berjama'ah", na'udzubillah.


Di lain ayat Allah berfirman,


وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ


"Wala taqrabu az zina, janganlah kalian dekati zina" (Al Isra': 32)


Mereka jadikan ayat ini sebagai olok-olok dan mereka plesetkan artinya dengan "Hari Rabu jangan berzina, selain hari Rabu silakan saja." Wal'iyadzubillah.


Sebagian yang lain mengolok-olok wanita yang multazimah, wanita yang berpegang teguh dengan agamanya dengan mengenakan jilbab besar yang berwarna gelap atau memakai cadar. Mereka olok-olok dengan panggilan "Ninja, ninja!" atau mereka gelari dengan sebutan "Kuntilanak" atau yang semisalnya.


Atau contoh lain, sebagian orang mengejek orang yang berjenggot karena mengamalkan sunnah Rasul dengan menirukan suara kambing ketika mereka lewat. Menyerupakan orang yang berjenggot dengan kambing.


Ini semua adalah bentuk ISTIHZA', berolok-olok dalam perkara agama yang dilarang keras di dalam Islam, bahkan ditakutkan pelakunya bisa murtad, keluar dari Islam.


KENAPA BISA MURTAD?

Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di menjelaskan,

"Sesungguhnya berolok-olok dengan Allah, ayat-ayatNya dan rasul-Nya mengeluarkan seseorang dari agama karena pondasi agama ini dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, pengagungan terhadap agama dan Rasul-RasulNya. Maka berolok-olok dengan perkara tersebut menafikan pondasi agama dan benar-benar membatalkannya." [Tafsir As Sa'di, At Taubah: 65-66]


Di dalam Al Quran Allah berfirman,


وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ


“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab: ”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah: 65-66)


SEBAB TURUNNYA AYAT

Tahukah Anda sebab turunnya ayat ini?

Dahulu ada sekelompok manusia yang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Di dalam suatu majelis mereka mengatakan,


“Kita tidak pernah melihat seperti para pembaca Al Qur'an kita ini yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya, paling penakut ketika bertemu musuh”,


Yang mereka maksudkan dengan ucapan mereka itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.


Pada waktu itu di antara mereka ada seorang dari kalangan sahabat, maka sahabat ini pun marah dengan ucapan mereka ini. Dia pun pergi dan melaporkan apa yang terjadi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelum dia sampai kepada Rasulullah, wahyu telah turun mendahuluinya.


Maka datanglah kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta maaf. Berdirilah salah seorang dari mereka dan bergantungan di tali pelana onta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan beliau mengendarainya, orang tersebut mengatakan,


“Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa penat dalam perjalanan, kami tidak memaksudkan untuk memperolok-olok, kami hanya bersenda gurau,”


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menoleh sedikit pun kepadanya dan beliau hanya membacakan ayat tadi,


قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ


"Katakanlah, apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah: 65-66)


Asy Syaikh DR. Shalih Al Fauzan, ulama besar Saudi Arabia dalam Kitab beliau Syarah Nawaqidil Islam "Penjelasan tentang Pembatal-pembatal Keislaman" menjelaskan,


"Ini merupakan dalil bahwa barangsiapa mencela Allah, Rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya atau sedikit saja dari Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia telah murtad dari Islam walaupun hanya bersenda gurau." [hal. 26]


Kalau ada yang mengatakan, "Ini kan cuma bercanda, orangnya kan mungkin tidak punya niat untuk mencela atau merendahkan. Cuma guyon saja kok.."


Maka kita katakan bahwa kasusnya sama saja dengan kisah Perang Tabuk yang telah kita sampaikan di atas. Orang yang mengolok-olok Rasulullah dan para sahabat tadi juga mengemukakan alasan yang serupa,


"Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main."


Tapi tetap saja Allah kafirkan dengan firman-Nya,


لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُم


"Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman." (At Taubah: 65-66)


Oleh karena itu saudaraku seiman, hendaknya kita jaga lisan dan sikap kita dari menjadikan perkara agama, atau simbol-simbol agama sebagai bahan candaan dan olok-olok.


Apakah tidak ada bahan candaan lain sehingga perkara yang semestinya kita agungkan dan kita sakralkan ini pun kita jadikan bahan olok-olok?


Ingatlah selalu peringatan dari Allah terhadap orang yang berolok-olok dengan agamanya,


لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُم


"Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman." (At Taubah: 65-66)


Wallahu ta'ala a'lam.


(Ditulis oleh Abu Umar Wira Bachrun Al Bankawy di Darul Hadits Ma'bar, 14 Ramadhan 1433 H – 2/8/2012)

Selasa, 17 Juli 2012

Pelajaran Penting dari Surat Al Fatihah


Berikut rekaman audio Pelajran Penting dari Surat Al Fatihah oleh Al Ustadz Abu Abdillah Sofyan Chalid Ruray. Dan silahkan klik link yang tersedia untuk mendownload.

Untuk download file bisa dilakukan dengan klik kanan -> Save Link As atau yang semisal. Untuk lebih mempermudah download, kami sarankan menggunakan software download manager seperti IDM, FDM, atau yang semisal




Jumat, 13 Juli 2012

Menyikapi Kesalahan dan Orang Salah (JUGA ADA FIKIHNYA) -perhatikan lagi pendetilannya- (Asy-Syaikh Ubaid Al Jabiri)

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan: Fadhilatus-Syaikh, apakah ketika seseorang dari ulama besar salah, boleh atau dibenarkan bagi seorang pemuda untuk membantah kesalahannya? Atau (yang harus) membantahnya seorang ulama juga semisalnya? Dimana sebagian anak muda lancang menolak fatwa sebagian ulama yang mana fatwa itu terkadang sensitif menurut syariat, lalu sang ulama tersebut memfatwakannya karena darurat atau menurutnya ada hikmah dibaliknya –barakallahufikum-, apa pendapatmu dalam hal ini? Semoga Allah membalas kebaikanmu.

Jawaban: Segala puji bagi Allah Rab semesta alam, dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. (Dialah) penolong orang-orang shalih dan Rab orang-orang baik. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya, penghulu anak Adam seluruhnya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada beliau dan keluarganya serta para shahabatnya yang baik lagi suci sampai hari akhir. Amma ba’du:

Sesungguhnya apa yang kalian tanyakan, perlu dilihat dari dua sisi, sebagaimana perlu dilihat kepada siapa pemilik pendapat keliru tersebut dari dua sisi juga. Demikianlah Ahlussunnah, mereka melihat kepada (jenis) penyimpangan dan kepada (orang) yang menyimpang.

Adapun (jenis) penyimpangan, (ia) tidak keluar dari dua keadaan:

-          Apakah penyimpangan tersebut terjadi pada perkara yang bukan ranah ijtihad, apakah dalam perkara pokok agama atau cabang-cabangnya, seperti banyak terdapat dalil Al Qur’an dan Sunnah berkenaan dengannya dan disepakati oleh para imam (ijma’), atau telah dianggap seperti ijma’, dan ketika itu orang yang menyimpang (mukhalif) tidak ada padanya nas-nas yang menguatkan pendapatnya. 

-          Atau penyimpangan tersebut terjadi pada perkara yang merupakan ranah ijtihad, atau perkara yang nas-nasnya (dalil-dalil) muhtamal (memiliki banyak sudut pandang). 

Maka jenis pertama: yaitu perkara yang bukan merupakan ranah ijtihad, sesungguhnya penyelisihan dalam hal ini tidak benar sama sekali dan kesalahan harus disanggah dari siapa pun orangnya.

Kemudian orang yang menyelisihi (kebenaran) ini tidak lepas dari dua keadaan:
-          Apakah ia seorang pengikut sunnah, orang-orang mengenalnya sebagai orang yang istiqamah di atas sunnah, membela sunnah dan ahlussunnah. Sebagaimana ia juga dikenal sebagai orang yang menginginkan kebaikan bagi ummat. Maka orang seperti ini kesalahannya tidak boleh diikuti dan kehormatannya (harus) dijaga. Dan meskipun kita membantah kesalahannya kita tetap menjaga adab bersamanya dan kita menjaga kehormatannya. Dan kita tidak berkata keras kepadanya seperti kepada ahlulbid’ah para pengekor kesesatan. Dan hal yang demikian itu sebagai bentuk penghargaan atas anugrah Allah kepadanya berupa keutamaan dan kemuliaan serta kepemimpinan dalam agama. Maka kita menjaga hal ini semua.

Dan apabila kalian melihat kapada kebanyakan imam-imam di atas sunnah, orang-orang yang disaksikan manusia (keimaman mereka) dikehidupan mereka dan begitu pula kita harap setelah kematian mereka insyaAllah, ada pada mereka kesalahan-kesalahan, ketergelinciran. Lalu ulama-ulama sezaman mereka membantah mereka dan begitu pula ulama-ulama setelah mereka sambil tetap menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka serta tidak bertindak sewenang-wenang kepada mereka dengan menggunakan ungkapan-ungkapan kasar.

-          Atau orang yang menyelisihi (kebenaran) ini menyelisihi dalam artian membangkang dan sombong serta merasa lebih tinggi dari kebenaran dan mengikuti hawa nafsu. Maka orang ini tidak ada penghormatan untuknya disisi ahlussunnah. Ahlussunnah membantah kesalahannya dan bersikap keras kepadanya serta mensifatinya dengan bid’ah dan kesesatan. Dan memperingatkan ummat darinya dan menggunakan ucapan-ucapan yang keras. Kecuali apabila (hal itu) mengakibatkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan yang diharapkan. Maka ahlussunnah (dalam hal ini) mencukupkan dengan membantah kesalahannya dan menjauhinya. Hal yang demikian ini apabila si mubtadi’ sesat tadi di negeri tersebut dan dihati masyarakatnya memiliki pengaruh dan posisi, seperti kalau dia itu seorang mufti negara atau salah seorang menteri seperti menteri wakaf atau menteri kehakiman atau dia termasuk orang dekat pemerintahan atau tergolong ulama yang dipercaya oleh negara dan ahlussunnah lemah. Maka (dalam kondisi seperti ini) kita tidak mensifatinya dengan sifat-sifat seperti ini, (tapi cukup) kita katakan: ini keliru, Asy-Syaikh fulan keliru dalam masalah ini dan kita tidak terima ini darinya (karena) ukurannya adalah dalil, sedangkan dalil yang ada menyelisihinya.

Dan sudah sewajibnya bantahan itu (muatannya) ilmiyah, bersandar kepada Al Kitab dan Sunnah sesuai pemahaman salafusshalih, jauh dari kebohongan dan kata-kata kasar yang menjadikan orang-orang yang mendengar merasa risih dan menjauh darinya serta meninggalkan kebenaran yang ada pada kita atau pada kalian karena mereka mendengar kata-kata yang tidak pada tempatnya dan tidak sesuai dengan citra seorang penuntut ilmu.

Karena bantahan yang bersandar kepada Al Kitab dan As-Sunnah dan sesuai pemahaman salafus-shalih, (dan bantahan yang) padanya ditampakkan kebenaran dan dipatahkan kebatilan, orang-orang yang adil akan menerima bantahan seperti ini dan tidak menyelisihinya meskipun mereka mencintai pihak yang sedang dibantah ini. Dan ini mujarab –barakallahufiik- maka perhatikanlah.

Jenis kedua dari penyelisihan-penyelisihan yaitu dalam perkara yang masih di dalam ranah ijtihad. Dalam hal ini (cukup) bagimu menerangkan pendapat yang kuat menurutmu dan jangan mencela pihak lain dan jangan mentahdzirnya dan jangan (pula) engkau juluki dia mubtadi’ sesat atau menyimpang. Tapi (cukup) kamu katakan: yang benar menurutku ini.

Sebagai contoh: (masalah) tertib/berurutan dalam berwudhu’. Jumhur (ulama) berpendapat tertib itu wajib. Diantara mereka Al Imam Ahmad dan murid-muridnya –rahimahumullah-. (Sedangkan) hanafiah dan para ulama yang sependapat dengan mereka memilih (tertib dalam berwudhu’) tidak wajib. Maka kita membantah hanafiah (tapi) tanpa mencela dan tanpa kata-kata kasar. (Cukup) kita katakan: Yang kuat menurut kami, atau yang terkuat dari dua pendapat adalah wajib.

Contoh lain: Orang yang meninggalkan shalat karena malas. Jumhur (berpendapat) dia fasik, wajib diminta bertaubat, apabila ia bertaubat (dilepas), kalau tidak dibunuh sebagai hukum had atasnya. Dan hukum atasnya seperti orang-orang fasik lainnya. Dimandikan, dikafani dan dishalatkan dan didoakan kebaikan untuknya dan dikubur di pemakaman ummat Islam, keluarganya mewarisi hartanya. Dan ini adalah pendapat Az-Zuhri dan Malik dan salah satu riwayat dari Al Imam Ahmad dan selain dari mereka. Jumhur ulama sebagaimana telah aku jelaskan.

Sedangkan riwayat lainnya dari Al Imam Ahmad dan ini juga pendapat para muhaqqiq imam, diantara mereka Asy-Syaikh Abdul Aziz Al Imam Al Atsari, seorang mujtahid –rahimahullah- dan Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin, Al Imam Al Faqih, Al Muhaqqiq Al Mudaqqiq Al Mujtahid –rahimahullah- (berpendapat) bahwa orang ini kafir dan diminta bertaubat, apabila ia bertaubat (dilepas) atau kalau tidak dibunuh sebagai orang murtad. Berdasarkan ini mayatnya tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak dishalatkan dan tidak didoakan dan keluarganya tidak mewarisi hartanya, hartanya fa’i pemerintah (bebas) membelanjakannya pada kepentingan-kepentingan umum.

Dan apabila kalian lihat pada keadaan dua kelompok dari para imam ini –rahimahumullah- kalian tidak dapati ulama yang menganggap fasik orang yang meninggalkan shalat karena malas menjuluki ulama yang menganggap orang itu kafir sebagai khawarij. Begitu pula sebaliknya kita tidak dapati ulama yang menganggap kafir orang yang meninggalkan shalat karena malas menjuluki ulama yang menganggap orang itu fasik sebagai murji’ah. Karena masing-masing mereka memiliki dalil yang kuat yang menjadi landasan dalam pendapatnya.

Saya tambahkan. Ulama yang mulia yang keliru  dalam perkara yang menurutmu kuat. Ulama ini menurutku hendaknya dinasihati dan diterangkan kepadanya kesalahannya. Apabila ia tidak menerima dari kalian angkat perkaranya kepada ulama yang lebih besar dari kalian dan dia. Karena sesungguhnya mereka akan menasihatinya dan menerangkan (kebenaran) kepadanya dan kelak ia akan kembali kepada sunnah insyaAllah.

Lihatlah (Asy-Syaikh) Al Albani –rahimahullah- dan banyak imam-imam kaum muslimin, ahlussunnah dan petunjuk –rahimahumullah- berpendapat bahwa wajah wanita bukan aurat, boleh baginya membuka wajahnya. Sedangkan Asy-Syaikh Abdul Aziz –Rahimahullah- dan Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin –Rahimahullah- dan Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim –rahimahullah- berpendapat dengan pendapat yang berbeda. Akan tetapi mereka tidak mencela (Asy-Syaikh Al Albani). Dan para ulama membantah Asy-Syaikh Nashir (Al Albani) tanpa mencelanya dan tidak pula ejekan atau (kata-kata) yang berlebihan.

Begitu pula beliau (Asy-Syaikh Al Albani) memandang haramnya emas yang melingkar dan membawakan dalil bagi pendapatnya. Dan para ulama yang telah aku sebutkan (nama-nama mereka di atas) serta selain mereka tidak mencela beliau. Mereka mengatakan: Asy-Syaikh Nashir Al Albani keliru dalam hal ini dan yang benar adalah ini.

Dan demikianlah barakallahufiikum para ulama saling menghormati satu sama lain. Dan telah aku jelaskan pada kalian ukuran/timbangan (dalam hal ini) yang aku ketahui dari ucapan imam-imam kita dan ulama kita dalam perselisihan dan orang yang menyelisihi. Maka perhatikanlah ini karena perkaranya tidak sama. 


Diterjemahkan oleh Al Ustadz Jafar Salih dari transkrip rekaman tanya-jawab pemuda dari Maroko bersama Asy-Syaikh Ubaid Al Jabiri Hafidzahullah dengan judul Al Haddul-Fashil baina Mu’amalati Ahlissunnah wa Ahlil Bathil.

Minggu, 08 Juli 2012

احبك مثلما انتي و كيفما كنتي


احبك مثلما انتي
Uhibbuki mitsla maa anti
Aku mencintaimu apapun dirimu

احبك كيفما كنتي
Uhibbuki kaifa maa kunti
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu

ومهما كان مهما صار
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro
Apapun yang terjadi dan kapanpun

انتي حبيبتى انتي
Antii habiibatii anti
Engkaulah cintaku

زوجتي
Zaujatii
Duhai istriku

انتي حبيبتى انتي
Antii habiibatii anti
Engkaulah kekasihku


*************

حلالي انت لا اخشى عزولا همه مقتي
لقد اذن الزمان لنا بوصل غير منبتي
Halaalii anti laa akhsyaa ‘azuulan himmuhuu maqti
Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin ghoiri munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak peduli celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya.

سقيت الحب في قلبي بحسن الفعل والسمت
يغيب السعد إن غبت ويصفو العيش إن جئت
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi’li wassamti
yaghiibus sa’du in ghibti wa yashful ‘aisyu in ji’ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap ,
Hidupku menjadikan terang ketika kamu disana .

نهاري كادح حتى إذا ما عدت للبيت
لقيتك فانجلى عني ضناى اذا ما تبسمت
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa ‘udtu lilbaiti
Laqiituki fanjalaa ‘annii dhonaaya idzaa maa tabassamti
Hari2ku berat sampai aku kembali ke rumah menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu senyum.

تضيق بى الحياة اذا بها يوما تبرمتي
فأسعى جاهدا حتى احقق ما تمنيتي
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman tabarromti
Fa as’aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras
Sampai benar2 mendapatkan apa yang engkau inginkan

هنائى انت فلتهنئى بدفء الحب ما عشتي
فروحانا قد ائتلفا كمثل الارض والنبت
Hanaa’ii anti faltahna’ii bidifil hubbi maa ‘isyti
Faruuhanaa qodi’talafaa kamitslil ardhi wannabti
Engkau kebahagiaanku . tanamkanlah kebahaiaan selamanya
Jiwa-jiwa kita telah bersatu bagaikan tanah tumbuhan .

فيا أملي ويا سكني
ويا انسي وملهمتي
يطيب العيش مهما ضاقت الايام ان طبتي
Fayaa amalii wa yaa sakanii wayaa unsii wa mulhimati
Yathiibul ‘aisyu mahmaa dhooqotil ayyamu in thibti
Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku.
indahnya hidup ini walaupun hari2ku berat asalkan engkau bahagia.

تبلغ بالقليل من القليل
وهيء الزاد للسفر الطويل
Taballagh bilqoliil minal qoliil
wahayyizzaada lissafritthowiili
Carilah bekal dengan kehidupan dunia yang sementara ini
Persiapkan modal untuk perjalanan negeri akhirat yang panjang

وطاعته غنى الدارين فالزم
وفيها العز للعبد الذليل
Wathoo’atuhuu ginaddaaroini falzami
wafiihaal’izzu lil’abdiddzaliili
Menta’ati ALLAH merupakan bekal kekayaan di dunia dan akhirat
dan merupakan kemuliaan untuk hamba yang hina, maka perjuangkanlah.

وفي عصيانه عار ونار
وفيه البعد مع خزي وبيل
Wafii ‘ishyaanihi ‘aarun wa naarun
wafiihil bu’du ma’ khizyin wabiilin
Dan mendurhakai ALLAH merupakan bekal kehinaan dan api nereaka
dan jauh dari rahmat dekat dengan kesengsaraan

فلا تعصي إلهك وأطعه
دواما علّ تحظى بالقبول
Falaa ta’shii ilaahaka wa athi’hu
dawaaman ‘alla tuhzho bilqobuuli
Maka janganlah engkau durhaka pada Tuhanmu, ta’atilah selalu
Semoga engkau diberikan keberuntungan.

وصلى ربنا في كل حين
وسلم بالغدوّ وبالأصيل
wa shollaa robbunaa fii kulli hiinin
wasallama bilghuduwwi wa bil ashiili
Semoga ALLAH mencurahkan rahmatnya tiap saat
tiap pagi dan tiap sore

على طه البشير بكل خير
ختام الرسل والهادي الدليل
‘alaa thoohalbasyiiri bikulli khoirin
khitaamirrusli wal haadiddaliili
Atas baginda Nabi Muhammad Pembawa khabar gembira
Penutup para utusan, penunjuk jalan yang lurus.

*****************************************************************

Nasehatku, Wahai Saudaraku ...


مَنْ أَرَادَ وَلِيًّا فاللهُ يَكْفِيْهِ 

Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.

 

وَمَنْ أَرَادَ قُدْوَةً فَالرَّسُوْلُ يَكْفِيْهِ

Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.

 

وَمَنْ أَرَادَ هُدًى فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ

Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.

 

وَمَنْ أَرَادَ مَوْعِظَةً فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ

  Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.

 

  وَمَنْ لاَ يَكْفِيْهِ ذَلِكَ فَالنَّارُ يَكْفِيْهِ 

Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya

Kamis, 28 Juni 2012

Akibat Mencari Ridha Allooh, Bukan Mencari Ridha Manusia

 Di tengah-tengah pelajaran kitab Syarah Aqidah Ath Thahawiyyah karya Ibnu Abil 'Izz Al Hanafi, guru kami Abu Abdirrahman Fahd Al Adeni berkisah...

Dahulu, beberapa orang thalibul 'ilm murid Syaikh Muqbil diutus untuk berdakwah ke sebuah desa yang mayoritas penduduknya berpemahaman Syi'ah Zaidiyyah. Salah seorang dari mereka kemudian memberikan khutbah Jum'at di masjid desa tersebut. Selesai shalat Jum'at, orang-orang pun riuh membicarakan khutbah yang dibawakan oleh si thalib. Sampai datang seorang tua kepada si thalib lalu mencelanya,

"Kamu berkhutbah tidak membaca shalawat dan salam atas ahli bait, keluarga nabi!"

Lalu dengan tenang si penuntut ilmu menjawab, "Bahkan aku telah mengulang-ulangnya. Apakah engkau tidak memperhatikannya?"

Bapak tua itu terdiam bingung. Mungkin dia bimbang, kapan si khatib membaca shalawat kepada ahlul bait nabi. Jangan-jangan pas khutbah tadi dia yang ngantuk.

Sebenarnya yang diinginkan oleh bapak tua yang Zaidi tadi adalah membaca shalawat khusus kepada ahli bait Nabi di mukaddimah dan juga di penutup khutbah sebagaimana yang menjadi kebiasaan orang-orang Zaidiyah. Tapi bukankah di dalam khutbah, si penuntut ilmu sudah bershalawat kepada keluarga nabi setiap kali membacakan hadits?

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam mengatakan demikian dan demikian… Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam bersabda demikian dan demikian…"

Apa arti ucapan shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam? Bukankah itu maknanya semoga shalawat dan salam tercurah pada Rasulullah dan keluarga beliau?

Kemudian bapak tua tersebut berkata lagi, nampaknya dia tetap mencoba mencari-cari kesalahan si penuntut ilmu, "Kamu tadi mengimami baca alfatihah tanpa membaca bismillah!"

Kembali si penuntut ilmu menjawab dengan tenang, "Bahkan aku telah membacanya, tapi aku membacanya dengan sirr (dipelankan) tidak dengan jahr (dikeraskan) sebagaimana hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, di mana beliau berkata,

صَلَيْتُ خَلْفَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدُ ِللهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ لاَ يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فِيْ أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلاَ فِيْ آخِرِهَا

'Aku shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan di belakang Abu Bakar, Umar, serta Utsman. Dulu mereka membuka shalat dengan 'alhamdulillahi rabbil 'alamin' dan mereka tidaklah mengucapkan bismillahirrahmanirrahim di awal bacaan mereka, tidak pula di akhirnya.' (HR. Muslim)

Bapak tua tersebut masih ngotot memaksa, "Tapi madzhabnya Imam Zaid mengatakan wajib baca basmalah, shalat itu tidak sah kalau tidak baca basmalah!"

Lalu datang muadzin masjid membela sang penuntut ilmu. Dia berkata kepada orang tua tersebut, "Wahai syaikh, engkau tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti mazhabmu. Bukankah dia punya dalil Hadits Anas tadi?"

Akhirnya terjadilah perdebatan sengit antara sang muadzin dan bapak tua itu. Orang-orang pun berkumpul di sekitar mereka menambah riuk-pikuk perdebatan tadi. Sang penuntut ilmu kemudian keluar dari masjid untuk menjauhi keributan.

Di luar masjid, dia ditemui seorang bapak tua yang lain. Bapak tua ini menyalaminya, kemudian bertanya kepada si penuntut ilmu, "Wahai anak muda, kenapa engkau tidak tanazzul saja, mengikuti tata cara peribadahan mereka, agar kemudian mereka mendengarkan dan menerima dakwahmu?"

Si penuntut ilmu menjawab, "Wahai paman, bukankah Rasulullah pernah bersabda,

مَنْ أَرْضَى اللهَ بِسَخَطِ النَّاسِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسُ، وَمَنْ أَرْضَى النَّاسُ بِسَخَطِ اللهِ، عَادَ حَامِدَهُ مِنَ النَّاسِ لَهُ ذَاما

"Barangsiapa yang mengharap ridha Allah walaupun manusia murka kepadanya, maka Allah akan ridha kepadanya dan demikian juga manusia akan ridha kepadanya. Barangsiapa yang mengharap keridhaan manusia walaupun dengan kemurkaan Allah, maka orang yang dahulu memujinya akan berbalik mencelanya" (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani. Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah hal 268, terbitan Darus Salam)

Bapak tua itu kemudian berkata kepada kepadanya, "Benar, benar.. Sungguh benar ucapanmu."

Si penuntut ilmu kemudian pergi. Ketika dia shalat ashar di masjid yang lain, ada beberapa orang dari desa tersebut mendatangi dia sambil membawa senapan. Senapan itu lalu diletakkan di hadapan si penuntut ilmu. Salah seorang dari mereka lalu berkata kepada si penuntut ilmu,

"Wahai syaikh… (ini merupakan panggilan kehormatan bagi si penuntut ilmu, karena sebenarnya dia masih muda dan belumlah pantas dipanggil syaikh).. Wahai syaikh, sesungguhnya kabilah kami merasa sangat malu dengan apa yang terjadi tadi setelah shalat Jum'at. Kami seharusnya menghormati dirimu sebagai tamu di desa kami, tapi kami telah memperlakukanmu dengan kurang terhormat.

Dan orang tua yang tadi siang mencelamu sungguh dia adalah orang yang paling buruk di antara kami. Kami tidaklah pernah melihat dia shalat Jum'at melainkan hari ini, ketika dia mendengar bahwa dirimu yang akan memberikan khutbah. Oleh karena itu, ini senjata wahai syaikh kami berikan kepadamu. Terserah engkau apa hukuman yang pantas bagi kami, karena sesungguhnya ini adalah aib yang besar bagi kami. Kami sungguh merasa malu."

Dengan bijak si penuntut ilmu berkata, "Tidak ada sesuatu di antara kita. Apa yang sudah terjadi biarkanlah terjadi. Hanya saja biarkan saya dan teman-teman mengajarkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di tengah-tengah kalian."

Akhirnya para utusan kabilah tersebut menyetujui keinginan si penuntut ilmu. Mereka pun mulai mengajarkan penduduk Islam yang benar, yang sesuai dengan sunnah nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang dipahami oleh salafus shalih, generasi awal Islam.

Bahkan pada malam itu juga, di masjid yang sama -karena pada waktu itu Ramadhan- ditegakkan shalat tarawih untuk yang pertama kali sejak masjid itu dibangun, karena sebelumnya mazhab Syiah Zaidiyah tidaklah menganggap shalat tarawih berjama'ah itu sebagai sesuatu yang disyariatkan.

Maka sejak itu, berubahlah desa tersebut dari desa Syi'ah Zaidi menjadi desa ahlussunnah. Walillahil hamd.

Sungguh telah benar Nabi shallallahu 'alaihi wa'ala alihi wasallam dengan sabda beliau,

"Barangsiapa yang mengharap ridha Allah walaupun manusia murka kepadanya, maka Allah akan ridha kepadanya dan demikian juga manusia akan ridha kepadanya…"

Wallahu ta'ala a'lam bisshawab.
Ditulis di tepi Laut Arab, Madinatus Syihir -Propinsi Hadramaut Yaman pada hari Rabu tanggal 7 Sya'ban 1433 H – 27 Juni 2012

Sumber  : Al Akh Wira Bachrun Al Bankawy

Senin, 11 Juni 2012

Nasihat Untuk Para Suami & Para Istri

Nasihat Untuk Para Suami
APA yang memberatkanmu wahai hamba Allah!
untuk bermuka cerah di depan isterimu ketika masuk rumah
agar engkau mendapat pahala dari Allah ?!!
Apakah berat bagimu jika engkau melemparkan senyuman
kepada isteri dan anak-anakmu?!!
Apakah mengurangi kewibawaanmu wahai hamba Allah!
bila engkau mengecup kening isterimu
dan bermain-main dengannya?!!
Apakah yang memberatkanmu
menyuapkan satu suapan makanan ke mulut isterimu
hingga engkau mendapat pahala karenanya?!!
Apakah sulitnya bila masuk rumah engkau
mengucapkan salam dengan sempurna
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
hingga engkau mendapatkan 30 kebaikan ?!!
Mengapa engkau tidak berbicara
dengan perkataan yang baik kepada isterimu
meskipun dengan sedikit berbohong agar ia senang?!!
Tanyakanlah tentang isterimu
tanyakanlah keadaannya ketika engkau baru masuk rumah
Aku pikir tidaklah mengapa dan tidaklah berat
bila engkau berkata kepada isterimu
“Wahai kekasihku, sejak aku keluar dari sisimu
sedari pagi hingga sekarang seolah terasa setahun
telah berlalu”!!
Sesungguhnya bila engkau mengharapkan pahala
-walaupun engkau merasa jemu mendatangi dan
mencampurinya- maka engkau mendapat pahala dan
ganjaran dari Allah Ta’ala,
karena Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Dan dalam kemaluanmu ada sedekah.”
Apakah termasuk suatu kebodohan wahai hamba Allah!
bila engkau berdo’a pada Allah seraya berkata
“Ya Allah perbaikilah aku dan isteriku
serta berikanlah keberkahan kepada kami.”
Sebuah ucapan yang baik adalah sedekah.
Wajah berseri dan senyuman adalah sedekah.
Menyebarkan salam banyak kebaikannya.
Bersalaman sambil mengucapkan salam
menghilangkan kesalahan-kesalahan.
Dalam jima’ pun ada pahalanya.

Nasihat Untuk Para Isteri
APAKAH engkau rugi bila menemui suamimu
dengan wajah berseri dan senyuman?!!
Apakah berat bila engkau
mengusap debu di wajah,
kepala dan pakaiannya
dan engkau menciumnya?!!
Aku pikir tidaklah berat bila engkau
tidak duduk sampai suamimu
masuk dan duduk!!
Tidaklah sukar bila engkau
ucapkan padanya “Alhamdulillah atas keselamatanmu
kami telah rindu menanti kedatanganmu,
selamat datang.”
Berdandanlah untuk suamimu
-dan lakukanlah hal ini karena mengharap pahala
dari Allah- sesungguhnya Allah itu indah
dan menyukai keindahan
pakailah parfum, celak, dan baju yang terbaik
untuk menyambut kedatangan suamimu
Hindarilah olehmu kesedihan
Janganlah engkau condong dan
mendengar omongan orang yang
mau merusak keutuhan rumah tanggamu
Janganlah selalu gundah gulana
tetapi berlindunglah pada Allah
dari perasaan gundah gulana, lemah kepribadian
dan malas
Janganlah engkau
merendahkan suaramu di hadapan laki-laki asing
nanti ia akan berniat yang bukan-bukan terhadapmu.
Jadilah orang yang selalu lapang dada
berpikiran jernih dan tenang serta
senantiasa mengingat Allah pada setiap masa
Hiburlah suamimu sehingga
meringankan kepenatan, sakit, musibah dan kesedihan
Anjurkan suamimu berbuat baik kepada kedua orang tuanya
Didiklah anak-anak dengan baik dan
penuhilah rumahmu dengan tasbih, tahmid, takbir dan
tahlil serta perbanyaklah bacaan Al Qur’an
terutama suarat Al Baqarah
karena ia dapat mengusir syaitan
Lepaslah dari rumahmu gambar-gambar bernyawa
alat-alat musik dan permainan yang merusak
Bangunkanlah suamimu untuk shalat malam
berilah semangat untuk berpuasa sunnah
ingatkanlah akan keutamaan infak dan
jangan cegah suamimu dari silaturahmi
Perbanyaklah istighfar untuk dirimu
suamimu, oarang tuamu dan kaum muslimin
Mohonlah kepada Allah tuk mendapatkan anak yang shalih
niat yang ikhlas baik dan kebaikan dunia serta akhirah
Ketahuilah
Rabbmu mendengar doa’amu dan
mencintai orang yang suka berdo’a
“Dan berkata Tuhanmu, berdo’alah kepada-Ku niscaya
Aku kabulkan.” (Ghaafir:60)


Nasihat Untuk Suami  Isteri
SESUNGGUHNYA orang yang tidak mendapatkan apa-apa
adalah orang yang tidak mendapat pahala
Alangkah baiknya andaikata kalian naik bersama
ke tempat yang tinggi, yang dekat dengan Allah Ta’ala
Alangkah baiknya andaikata kalian duduk bersama
membaca kitabullah dan mempelajari sunnah Nabi-Nya
Betapa indahnya andaikata
kalian duduk bersimpuh mempelajari agama
Semoga keselamatan dan ampunan menyertai kalian
andaikata kalian memberikan shalawat kepada
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam
Bergemberilah kalian dengan maghfirah dan pahala yang besar
andaikata kalian termasuk orang-orang yang banyak dzikrullah
Tenang-tenanglah, bila kalian
termasuk orang-orang yang sabar, jujur, taat, suka berinfak dan
suka meminta ampunan kepada Allah
Berikanlah hadiah untuk kedua orang tua kalian
Bersemangatlah untuk berbuat baik kepada mereka
keluarga dan teman dekat mereka.
Sungguh menakjubkan, andaikata kalian memuliakan tamu
memberikan hadiah kepada tetangga
menyambung tali silaturahmi dan
shalat malam berdua sementara manusia terlelap
Laluilah jalannya orang-orang yang baik
dengan cara menahan marah dan memaafkan manusia
Pahala akan kalian raih
bila kalian tolong menolong dalam ketakwaaan dan kebaikan
meninggalkan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan
Semoga Allah menjauhkan kalian dari kerugian
bila kalian saling menasehati dengan kebenaran dan
menasehati dengan kesabaran
Semoga Allah mewariskan surga kepada kalian
bila kalian menjalankan rukun-rukun islam dan
mendekat kepada Ar Rahman.
bukankah kalian punya teladan
sebagaimana yang Allah kabarkan :
“… dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin)
Atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan
(apa yang mereka berikan itu).” (Al Hasyr: 9)!!?
Ikutilah jalannya orang-orang yang kembali kepada Allah
dan jalannya mengikuti petunjuk Allah
Ikutilah petunjuk Allah yang dibawa para Rasul Allah
Mohonlah pada Allah wahai suami…
Mohonlah kalian wahai isteri…
agar Allah menolong Islam dan muslimin
agar Allah memelihara kalian, keturunan kalian dan
kaum muslimin dan muslimat
agar Allah menempatkan kalian di surga Firdaus dan
mengumpulkan kalian bersama orang-orang yang telah
diberi nikmat
dari kalangan para nabi, siddiqin, syuhada dan sholihin
Merekalah sebaik-baik teman dekat.

Diketik ulang oleh Ummu Hilmy dari buku “Romantika Pergaulan Suami Istri”